Apakah Game Dapat Menyebabkan Tindakan Kekerasan?

Mengkritisi "larangan" bermain game. It took at least 2 weeks to research. SO, please read carefully. Hal ini sejatinya mulai panas sejak tragedi di New Zealand soal terorisme Maret lalu.

Pertama, game punya dampak positif dan negatif. TAPI, tidak ada kaitan antara bermain game dengan tindakan kekerasan, tindakan seksual, tindakan terorisme, lalu menyebabkan autisme. Ini adalah kesalahan konseptual.

Riset oleh jurnal Molecular Psychiatry, nature.com telah menyatakan pendapat bahwa tidak adanya keterkaitan (link) antara bermain game dengan tindakan kekerasan. Lihat jurnal serta datanya:

mitos game menyebabkan kekerasan

"Ah, adminnya pasti gamer hardcore, pemain game garis keras, makanya menentang game dilarang." Tidak. Pemikiran anda terlalu sempit sehingga menjustifikasikan secara spontan.

Kedua, "jurnal ilmiah yang gua baca menyatakan bahwa game meningkatkan pemikiran agresif dan menunjukkan respon mental 'bawah.' Engga!

Para peneliti jurnal "gamblang" itu tidak menjelaskan kondisi apa yang dianggap sebagai "agresif." Menurut kamu numpahin saos ke makanan orang lain secara sengaja agresif atau tidak? Beberapa iya, beberapa engga. Tapi ingat, "the ends doesn't justify the means." Bahkan rata-rata responden yang menyatakan adanya pikiran agresif HANYA 2 persen.

Jangan pernah beranggapan dalam konteks game, nila setitik rusak susu sebelanga. Perumpamaan yang sangat salah dan menunjukkan bahwa argumentasi anda hanya terfokus pada problematika basis awal masalah. Ini menciptakan aksiomatik dan keluar dari premis awal.

Ketiga, dampak game terhadap otak. Dari 116 studi ilmiah yang telah saya kumpulkan, saya akan menyimpulkan 3 poin/dampak secara GARIS BESAR.

Poinnya adalah game dapat meningkatkan kecerdasan yaitu di mana skill visuospasial telah berkembang. Singkatnya, dalam otak, skill ini berguna untuk individu agar lebih kreatif, mampu menangkap persepsi suatu "teka-teki visual."

Poin lainnya adalah peningkatkan kinerja otak dalam hal "attention" atau perhatian yang mendalam, singkatnya FOKUS. Studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan bahwa bagian otak yang mengontrol fokus di Inferior Frontal Junction, di mana mekanismenya adalah bagian otak tersebut akan lebih berkembang (aktif) ketika skill fokus kita juga meningkat.

Lalu yang terakhir, game dapat menyebabkan ketagihan/adiktif. Ini dampak negatifnya yang disebut Internet Gaming Disorder. Tapi hal ini bisa jadi pembatasan di luar masalah kompleks yang sedang dibicarakan mengenai aksi kekerasan.


game tidak menyebabkan kekerasan
game meningkatkan kecerdasan
Ga ada ya interkoneksi antara game dengan aksi kekerasan. Plis open your mind, look up. Jurnal ilmiah: https://www.sciencedaily.com/releases/2018/01/180116131317.htm Ingat, literasi minat baca para pemain game itu tinggi, jangan disamakan dengan para pembaca buku, karena konsep "literasi minat baca" ga harus dari buku. 

Dan game juga dapat meningkatkan kecerdasan, lihat deskripsi awal postingan ini. (meningkatkan memori, fokus, dll).
sainsologi

1

2

3

referensi ilmiah:
https://www.nature.com/articles/s41380-018-0031-7 https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnhum.2017.00248/full https://www.neuronup.com/en/areas/functions/visuospatial http://news.mit.edu/2014/how-brain-pays-attention http://www.center4research.org/violent-video-games-can-increase-aggression/ https://www.sciencedaily.com/releases/2018/01/180116131317.htm https://www.forbes.com/sites/olliebarder/2019/02/15/new-study-shows-that-there-is-no-link-between-violent-video-games-and-aggression-in-teenagers/ https://psmag.com/news/dont-blame-gta https://www.sciencedaily.com/releases/2018/01/180116131317.htm https://www.medicalnewstoday.com/articles/318345.php https://www.eurekalert.org/pub_releases/2013-09/uoc--tto082913.php
-Stellarix

Komentar