Bumi Pernah Mempunyai Dua Bulan di Zaman Dahulu

Beberapa peneliti asal Amerika dan Swiss mengungkapkan Bumi mungkin pernah punya satu bulan besar, yang masih eksis sekarang, dan satu bulan kecil. Kemudian, sekitar empat miliar tahun lalu, mereka saling bertabrakan. Bulan kecil meledak dan pecah menjadi batu dan debu, sebagian besar jatuh ke sisi gelap bulan besar. Peneliti-peneliti itu menyebutnya “percikan besar.”

Menelik balik di zaman awal pembentukan bulan, banyak hal-hal yang masih menjadi misteri hingga sekarang.

Peneliti dari Universitas California Santa Cruz dan Universitas Bern menerbitkan temuan-temuan mereka dalam majalah “Nature”. Mereka menjelaskan bulan kecil sangat kecil, berdiameter hanya sekitar 1.200 kilometer.

satelit bumi
bintang di alam semesta. ©pexels.com

Satu bulan yang besar berada di depan, berukuran tiga kali lebih lebar dan 25 kali lebih berat dari yang satu lagi. Gravitasi bulan yang besar ini diduga sangat besar sehingga yang kecil tak mampu menahannya. Keduanya semakin mendekat dan lalu terjadilah momen tabrakan itu.

"Mereka ditakdirkan bersatu. Tak ada jalan lain. Percikan besar ini seperti penyatuan dalam kecepatan rendah," kata Erik Asphaug, salah satu astronom peneliti dilansir the Associated Press.

Kecepatan rendah dimaksud Asphaug ini adalah peristiwa terjadi dalam kecepatan 5.000 mil per jam. Namun ini momen yang perlahan sekali sehingga batu-batu angkasa tidak bisa luruh.

Dan karena bulan yang lebih kecil memiliki lebar lebih dari 600 mil, tabrakan ini memakan waktu yang cukup bagi penonton di Bumi melihatnya sambil makan kacang. "Orang akan bosan melihatnya karena butuh waktu 10 menit untuk peluru untuk mencapai bulan," kata Asphaug menyamakan bulan yang kecil dengan peluru.

Bumi dan bulan berputar dalam bentuk yang membuat sisi gelap bulan terpaling dari kita. Dari Bumi, kita hanya melihat satu sisi. Tetapi, kita tahu seperti apa sisi lainnya. Pesawat antariksa telah mengambil banyak foto sisi gelap tersebut. Foto-foto itu menunjukkan sisi bulan yang kita lihat sangat berbeda dari sisi lainnya.

Sisi yang kita lihat punya gunung-gunung atau perbukitan, dan kawah yang sebagian di antaranya dalam. Tetapi, sisi ini tidak begitu “bergelombang” seperti sisi yang gelap. Para peneliti menduga hal itu karena bulan kecil hancur, pecah, dan mengenai sisi satunya lagi.Kejadian ini diduga terjadi sekitar 4,4 miliar tahun yang lalu, jauh sebelum ada kehidupan di Bumi untuk menyaksikan kejadian itu di angkasa. Bulan-bulan ini sendiri masih muda, terbentuk 100 juta tahun sebelum sebuah planet raksasa menubruk Bumi. Kedua bulan ini mengorbit Bumi dan berjalan berurutan.

Sisi gelap punya lapisan atas tanah yang tebal dan juga gunung yang lebih tinggi dari sisi yang bisa kita lihat. Sebagian di antaranya memiliki ketinggian 3.000 meter, dan ketika bulan kecil menabrak bulan besar, muncul tonjolan. Sisi lain pada bulan cenderung menonjol ke luar. Bayangkan bola anak-anak yang telah banyak sekali dipukul atau ditendang. Bola itu, sama halnya dengan bulan, tidak lagi bulat penuh, melainkan timpang. Foto-foto sisi gelap jelas memperlihatkan hal itu.

Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana bulan tercipta pertama kali. Menurut kalangan ilmuwan, bulan terbentuk akibat tabrakan. Miliaran tahun lalu, kata mereka, suatu objek sangat besar menghantam bumi. Ukurannya sebesar Planet Mars. Ketika itu terjadi, ada bagian bumi yang terlempar ke antariksa. Seiring waktu, serpihan berupa bebatuan bumi dan debu itu mengumpul dan membentuk tidak hanya satu, tetapi dua bulan.

Badan Antariksa Nasional Amerika, NASA, berencana mengeksplorasi bulan lebih jauh tahun depan. Ini bisa membantu membuktikan teori tabrakan dua bulan, atau mungkin menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Tetapi, bila penelitian terakhir terbukti benar, bulan yang sekarang satu, sebelumnya ada dua.

Komentar