Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Sebagai Planet di Tata Surya?

Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Sebagai Planet di Tata Surya?
Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Sebagai Planet di Tata Surya?

Astronomi merupakan salah satu kajian ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit, termasuk planet. Pada awalnya, tata surya kita memiliki 9 planet yang mengelilingi matahari yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto. Sayangnya, sejak tahun 2006, Pluto bukan lagi menjadi planet yang masuk dalam tata surya kita. Hal ini dikarenakan Pluto tidak memenuhi berbagai kriteria atau katerakteristik penting yang menjadi bagian dari planet. Pernyataan bahwa pluto tidak lagi dianggap sebagai planet pertama kali dikeluarkan oleh IAU atau The International Astronomical Union.

Salah satu kriteria penting sebuah benda langit disebut sebagai planet adalah memiliki kemampuan untuk membersihkan lingkungan orbit yang dilalui dalam jangka waktu tertentu. Hal ini yang tidak terdapat pada Pluto hingga harus rela tidak masuk dalam planet tata surya yang mengelilingi matahari. Namun, IAU menyatakan bahwa Pluti berada dalam kategori planet kerdil atau sering juga disebut dengan dwarf planet.

Secara umum, planet kerdit yang ditujukan pada Pluto merupakan benda langit yang masuk dalam sistem orbit mengelilingi matahari namun belum mampu membersihkan bagian orbitnya dari objek yang berada di sekitarnya. Selain itu, bentuk fisik dari planet kerdil ini juga dikendalikan oleh gaya gravitasi. Ini yang membuat Pluto harus rela untuk dikeluarkan dari sistem tata surya yang melibatkan beberapa planet lainnya.

Mengenal sejarah Pluto

Meskipun pluto tidak lagi dianggap sebagai planet namun kamu harus tetap mengetahui sejarahnya. Pluto pertama kali ditemukan oleh seorang astronom yang bernama Clyde W. Tombaugh. Penemuan ini dilakukan di Observatorium Lowell yang berada di wilayah negara bagian Arizona pada 18 Februari 1930.

Sebenarnya, penampakan dari Pluto sudah berhasil diidentifikasi melalui penangkapan citra gambar yang melibatkan 2 objek secara langsung pada 1915. Sayangnya, identifikasi dari gambar objek itu tidak dikembangkan dengan sangat rinci. Bahkan, beberapa sumber menyebutkan bahwa penangkapan gambar objek yang dianggap sebagai Pluto sudah dilakukan pada 1909 melalui Observatorium Yerkes.

Perkembangan setelah penemuan Pluto

Pada saat penemuan Pluto pertama kali yang terjadi pada 1930 berhasil menarik perhatian dunia. Bahkan, pemberitaan juga dilakukan di seluruh dunia yang mengambil pernyataan langsung dari Observatorium Lowell. Hal ini yang membuat observatorium ini memiliki hak penuh untuk memberikan nama pada benda langit yang masuk dalam kategori planet itu. Pengelola dari Observatorium juga memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut dalam menyumbangkan ide dan gagasan dalam pemberian nama planet yang baru saja ditemukan.

Selang beberapa waktu kemudian pihak Observatorium Lowell mengaku bahwa sudah menerima lebih dari 1000 saran nama untuk planet yang baru saja ditemukan. Seluruh saran itu berasal dari seluruh dunia. Termasuk seorang siswa bernama Venetia Burney yang tinggal di Oxford, Inggris dan masih berusia 11 tahun. Bocah itu memberikan saran nama Pluto.

Venetia merupakan salah satu siswa yang sangat tertarik dengan ilmu astronomi. Selain itu, dirinya juga kerap senang membaca tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Mitologi Yunani. Inilah yang menjadi dasar dari Venetia memberikan nama Pluto kepada planet yang baru saja ditemukan. Pluto merujuk pada Dewa Dunia Bawah yang ada dalam Mitologi Yunani. Pemberian nama ini dianggap sangat sesuai dengan kondisi dari Pluto yang hampir sama dengan dunia bawah yaitu gelap dan sangat dingin.

Awalnya Venetia memberikan saran kepada Kakeknya yang juga seorang pustakawan bernama Falconer Madan yang pernah bekerja di Perpustakaan milik Universitas Oxford, Inggris. Madan menganggap bahwa nama itu juga sangat bagus untuk diberikan kepada planet baru. Setelah itu, Madan bergegas menemui Profesor Herbert Hall Turner. Profesor inilah yang kemudian menghubungi koleganya di Amerika Serikat dan menyarankan untuk memberi nama planet baru itu dengan sebutan Pluto.

Pada akhirnya, pihak Observatorium Lowell menganggap bahwa nama itu sangat baik untuk diberikan kepada planet baru. Secara resmi, pada 24 Maret 1930 nama planet baru berubah menjadi Pluto. Selanjutnya, perubahan nama ini diumumkan kepada publik pada 1 Mei 1930. Pengelola Observatorium Lowell juga memberikan hadiah khusus kepada Venetia yang ikut ambil bagian dalam pemberian nama sejumlah uang sekitar 5 poundsterling. Nama Pluto inilah yang mulai dikenal banyak orang di seluruh dunia.

5 alasan penting pluto tidak lagi dianggap sebagai planet

Penurunan status Pluto dari planet menjadi benda langit seperti biasanya tentu saja memiliki latar belakang tertentu. Apalagi hal ini juga sudah diputuskan melalui lembaga International Astronomical Union atau sebuah lembaga yang memang fokus terhadap perkembangan dunia luar angkasa. Bahkan, pernyataan dari IAU ini didukung oleh berbagai ilmuwan di seluruh dunia dan langsung memasukkan Pluto sebagai kategori dari planet kerdil yang tidak masuk dalam sistem tata surya.

Para ilmuwan dan IAU memiliki beberapa alasan yang menjadikan pluto tidak lagi dianggap sebagai planet. Alasan ini tentu saja bersifat ilmiah dan melalui tahapan riset dalam waktu yang cukup lama. Ini bisa menjadi pedoman pengetahuan bagi kamu juga. Berikut ini ada 5 alasan yang membuat Pluto tidak lagi menjadi planet yaitu:

1. Tidak memiliki kemampuan membersihkan orbit

Ini merupakan alasan mendasar bagi Pluto yang tidak lagi menjadi planet. Seluruh planet di tata surya tentu saja mengelilingi matahari yang menjadi pusat. Masing-masing dari planet memiliki lintasan yang akan dilalui dalam jangka waktu tertentu, termasuk Pluto. Sayangnya, Pluto tidak mampu membersihkan lintasan orbit saat mengelilingi matahari dari berbagai objek.

2. Jarak Pluto yang dianggap terlalu jauh dari Matahari

Alasan lain yang menjadi pertimbangan berbagai ilmuwan dan astronom adalah jarak Pluto yang dianggap terlalu jauh dari Matahari. Jarak Pluto dari Matahari adalah 39,5 unit astronomi atau sekitar 40 kali lebih jauh dari bumi. Tentu saja ini akan memberikan pengaruh pada lintasan orbit milik Pluto.

3. Pembentukan planet yang sangat berbeda

Kamu harus tahu bahwa pembentukan Pluto sangat berbeda dibandingkan dengan planet lainnya. Bila planet lain merupakan pembentukan dari partikel yang berkumpul dan mengelilingi matahari, maka Pluto dianggap sebagai batuan padat.

4. Ukuran yang terlalu kecil

Pluto memiliki ukuran yang sangat kecil untuk menjadi sebuah planet. Bahkan, ukuran dari Pluto juga lebih kecil dari bulan yang merupakan satelit dari bumi. Kondisi ini yang membuat Pluto tidak memiliki kemampuan untuk membersihkan seluruh lintasan orbit. Tentu saja ini memberikan pengaruh pada lintasan yang digunakan juga.

5. Kekuatan gravitasi yang terlalu kecil dibandingkan planet lain

Setiap planet memiliki kekuatan gravitasi yang berbeda. Ini yang mempengaruhi kekuatan dari planet untuk menghasilkan orbit yang sempurna dan mampu membersihkan lintasan orbit. Hal ini tidak dimiliki oleh Pluto karena kekuatan gravitasi yang dianggap sangat kecil dibandingkan dengan planet lainnya.