Mengenal Yanisari, pasukan elit terbaik di dunia pada masanya

Pasukan infanteri terkuat pada masanya, Yanisari dapat melibas siapapun yang menghalangi jalan sultan, yuk dengar kisahnya!
pasukan infanteri terbaik dunia yanasari

Janissaries atau Yanisari berasal dari bahasa Turki Utsmaniyah يڭيچرى (yeniçeri) yang berarti “Pasukan Baru”. Pasukan yang dibentuk pada abad ke-14 ini merupakan infanteri khusus pengawal atau bodyguard Sultan Ottoman.

Yanisari merupakan pasukan pengawal sekaligus pasukan elit infanteri modern di Eropa yang pertama. Dibentuk oleh Murad I pada tahun 1362 dengan wilayah operasi di Edirne (Ibu Kota Turki Utsmani sebelum pindah ke Konstantinopel).

Baca juga: 7 Negara dengan Tenaga Kerja Indonesia Terbanyak Beserta Remitansinya

Seluk-beluk infanteri Yanisari

Janitsaren-Mitsurugen

Yanisari dibentuk dari para anak laki-laki kristen yang wilayahnya telah takluk (seperti Yunani, Anatolia, dan beberapa wilayah Balkan) sehingga mengalami perbudakan.

Mereka kemudian diislamkan dan diadopsi dengan menggunakan sistem devşirme atau “Collection of Children”. Anak-anak yang terkuat akan dijadikan Yanisari, sedangkan anak-anak yang pintar akan dijadikan sebagai ilmuwan, arsitek, atau pejabat pemerintahan.

Baca juga: Bagaimana Sikap Kaum Pergerakan Terhadap Penjajahan yang Dilakukan Jepang

Yanisari dilatih dengan sangat baik oleh Kesultanan Ottoman pada saat itu, sehingga mereka berhasil menjadi pasukan elit yang ditakuti oleh musuh-musuh Kesultanan Ottoman khususnya di wilayah Eropa.

Sistem Yanisari sendiri mirip dengan cara-cara Persia dalam membentuk ghulams atau pasukan pengawal Khalifah Abbasiyah saat diperintah oleh Al-Mu’tasim. Dengan dibentuknya Yanisari, maka pasukan elit Ottoman sebelumnya yaitu Ghazis akhirnya tergantikan.

Pasca penaklukan Konstantinopel

Setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II, maka Konstantinopel menjadi markas Yanisari sekaligus ibu kota bagi Kesultanan Ottoman atau Kekhalifahan Utsmaniyah.

Penaklukan Konstantinopel sendiri juga tidak lepas dari peran Yanisari sebagai pasukan pengawal Sultan di bawah pimpinan Sultan Mehmed II yang juga ikut berjuang bersama tentara Kesultanan Ottoman.

Wikimedia Commons. Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II “The Conqueror”

Setelah mendirikan ibu kota baru, Sultan Mehmed II kemudian memfokuskan penaklukannya di wilayah Anatolia. Namun di sisi yang lain, permusuhan Vlad III Dracula terhadap Kesultanan Ottoman semakin memanas. Sehingga Sultan Mehmed II harus mengirimkan Yanisari untuk menaklukkan Wallachia.

Baca juga: 5 Kemungkinan yang Terjadi Jika Blok Poros Menang Perang Dunia

Pada invasi ke Wallachia, Yanisari berada di bawah pimpinan Radu cel Frumos, yaitu adik kandung Vlad III Dracula.

Berbagai serangkaian invasi yang dilakukan Yanisari dan tentara Kesultanan Ottoman berhasil beberapa kali membuat Vlad III Dracula berpindah-pindah tempat, serta berhasil membuat sekutu Wallachia seperti Transylvania dan Hungaria menjadi terdesak.

Namun pada tahun 1475, seperti yang tercatat dalam kebanyakan sumber sejarah, Radu cel Frumos berhasil ditangkap dan kemudian dieksekusi oleh Stephen III.

Akan tetapi setahun setelahnya, Yanisari dan tentara Kesultanan Ottoman berhasil membunuh Vlad III Dracula dalam sebuah pertempuran di daerah Danau Snagov.

Baca juga: Apa Saja Alasan Orang Pindah Kewarganegaraan?

Kisah singkat Yanisari dan pembubaran Yanisari

catchthispilum.com/wikimedia commons

Banyak perang yang diikuti oleh Yanisari, dan banyak perang juga yang berhasil dimenangkan oleh pasukan Kesultanan Ottoman. Bukan hanya dalam perang, Yanisari juga sangat terampil dan terlatih dalam mengawal dan melindungi Sultan.

Yanisari berada dalam masa keemasan pada abad ke 15 M -16 M, dan menjadi pasukan elit infanteri paling efektif di wilayah Eropa, serta dikenal sebagai pasukan elit yang memiliki kedisiplinan, moral, dan profesionalisme yang tinggi.

Baca juga: Kejahatan Perang yang Dilakukan Sekutu Pada Perang Dunia 2

Selain senapan, senjata yang digunakan Yanisari adalah pedang. Pedang Yataghan merupakan senjata yang menandakan pemiliknya adalah anggota Yanisari.

LACMA

Yanisari dibagi menjadi tiga sub-corps, yaitu cemaat (pasukan perbatasan), beylik (pengawal Sultan), dan sekban. Selain itu ada juga sub-corps lainnya seperti ajemi (kadet), dan semi-otonom Yanisari yang berbasis secara permanen di Algeria.

Selain dalam seni berperang, Yanisari juga memiliki keterampilan seni bermain musik yang ditampilkan pada parade militer.

Pelatihan Yanisari juga tidak main-main, bahkan Kesultanan Ottoman mendirikan sekolah militer yang disebut acemi oğlan sebagai tempat dimana calon Yanisari dituntut bekerja keras dan sangat disiplin.

Yanisari memiliki ciri khas tersendiri, tidak seperti kebanyakan orang muslim yang menumbuhkan jenggot, Yanisari malah dilarang untuk memanjangkan jenggot dan hanya diperbolehkan menumbuhkan kumis.

Baca juga: Siapa Orang Terkaya di Dunia Sepanjang Sejarah Manusia?

Setelah dalam beberapa dekade Yanisari tidak diperbolehkan menikah, maka pada pemerintahan Sultan Selim II larangan tersebut dicabut sebagai penghargaan karena telah lama setia kepada Sultan.

Dan dalam beberapa dekade sebelumnya posisi Yanisari menjadi sangat penting bagi Kesultanan Ottoman, sehingga bayaran mereka juga menjadi semakin tinggi.

Karena sadar akan posisinya yang penting, akhirnya perlahan Yanisari memiliki inisiatif sendiri untuk lebih membuat kehidupan mereka lebih baik.

Barulah pada awal abad 17, posisi Yanisari semakin kuat dan dominan baik dalam bidang politik maupun pemerintahan. Mereka juga mulai menjadi pemilik tanah, pemungut pajak dari kalangan miskin, dan penjual barang, sehingga keefektifan sebagai tentara menjadi sangat berkurang.

Ekspansi yang sangat giat dilakukan oleh Kekaisaran Ottoman membuat semakin banyaknya musuh yang dimiliki Kesultanan. Pada Pertempuran Vienna (September 1683), pasukan Kesultanan Ottoman mengalami kekalahan telak.

Belum lagi sebelumnya Kesultanan Ottoman telah berperang melawan Polandia (Perang Polish – Ottoman 1672-1676) dan Kekaisaran Russia (Perang Russo – Turkish 1676-1681) yang membuat posisi Kesultan Ottoman menjadi semakin terdesak dan mulai banyak pembelotan yang dilakukan oleh Yanisari.

Baca juga: Mengapa Bisa Terdapat Banyak Bahasa di Dunia?

Siege of Vienna (perempuran vienna). 12 September 1683

Hingga pada akhir abad 17, Yanisari sudah mulai jauh dari fungsi elit militer nya yang semula. Mereka mulai tidak disenangi oleh publik, bahkan mulai berani menentang Sultan. Ketika ada Sultan yang hendak membatasi kekuatan Yanisari, maka Sultan tersebut akan segera terbunuh atau digulingkan dari tahtanya.

Rival terberat pasukan Yanisari

Namun bukan berarti Yanisari tidak memiliki rival. Sebelumnya pada abad 16, Kesultanan Ottoman membentuk satuan resimen kavaleri yang disebut Sipahi. Tidak seperti Yanisari, Sipahi merupakan tentara yang berasal dari penduduk asli di wilayah Kesultanan Ottoman.

Tidak hanya bersaing di bidang militer, Yanisari dan Sipahi juga bersaing dalam bidang politik. Yanisari yang mulai membuat kekisruhan di jalanan ibu kota Kesultanan Ottoman segera dipaksa mundur ke barak mereka masing-masing oleh Sipahi.

Baca juga: Pertempuran Midway, Mimpi Buruk Bagi Pasukan Jepang

Hingga pada tahun 1826, bukti pemberontakan Yanisari berhasil ditemukan dan Sipahi memiliki peran penting dalam pembuktian pemberontakan tersebut. Segera Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah agar kekuasaan Yanisari disita dan para pemimpinnya ditangkap dan dieksekusi.

Sehingga banyak terjadi pemberontakan yang lebih besar di kawasan-kawasan di mana Yanisari masih mendominasi kekuasaan, dan menyebabkan hubungan Kekaisaran Ottoman dengan wilayah Balkan semakin memanas.

Sipahi, satuan resimen kavaleri Kekaisaran Ottoman

Akhirnya kekacauan terjadi di mana-mana, barak-barak Yanisari dibakar, para pimpinan Yanisari diburu dan dieksekusi, para Yanisari yang lebih muda diusir atau dipenjara. Kejadian tersebut dinamakan dengan “Auspicious Incident“.

Baca juga: Bermain Game Merugikan Indonesia Triliunan Rupiah

Lebih dari 40.000 Yanisari tewas dalam kejadian tersebut. Segera setelah kejadian itu, Sultan Mahmud II mengumumkan pembubaran Yanisari. Seusai pembubaran, Sultan Mahmud II kemudian membuat satuan pasukan elit baru yang disebut dengan Asakir-i Mansure-i Muhammediye (Tentara Kemenangan Muhammad).

Sedangkan setelah pembentukan pasukan elit yang baru, mantan anggota Yanisari menjadi terpencar di mana-mana. Agar tidak diburu, pasukan Yanisari yang tersisa banyak yang menjadi pekerja biasa atau lebih memilih profesi sebagai pedagang.

Sumber:

Exit mobile version