Perbedaan Hipotesis, Teori, dan Hukum dalam Sains

“ah… evolusi cuma sekedar ‘teori’, relativitas itu cuma ‘teori’ ga mungkin bener.” Aku sangat sering mendengar frasa seperti ini baik itu di social media maupun di lingkungan sekitar.

Tapi apa betul kalo evolusi cuma teori itu bisa berarti salah, begitu pula dengan relativitas dan teori teori yang lain?

Dalam sains atau ilmu pengetahuan, sesuatu seperti fakta, hipotesis, teori dan hukum memiliki makna yang berbeda satu sama lain.

Baca juga: 5 Hal yang Kita Pelajari dari Virus Corona Sejak Awal Pandemi

Miskonsepsi terbesar yang sering kita dengar adalah bahwa hipotesis adalah dasarnya dan ketika hipotesis sudah berkembang maka akan menjadi teori, lalu ketika teori dapat dibuktikan valid maka teori tersebut akan menjadi hukum. Dan sebagian dari premis ini salah.

Topik pembahasan kita kali ini adalah esensi sains yaitu perbedaan fakta, hipotesis, teori dan hukum, sebenernya apa sih yang membedakan di antara mereka?

Menurut Andreas Vesalius, “I am not accustomed to saying anything with certainty after only one or two observations.” Dia adalah orang yang menulis buku De Humani Corporis Fabrica, berkontribusi terhadap pengembangan ilmu anatomi tubuh manusia.

Baca juga: Penguin Seukuran Manusia Kemungkinan Pernah Singgah di Belahan Bumi Utara

“Metode saintifik bukanlah sebuah resep tunggal: ini membutuhkan intelijensi, imajinasi, dan kreativitas,” kata Albert Einstein dan Leopod Infeld dalam bukunya The Evolution of Physics.

Metode saintifik memiliki 2 cara untuk membuktikan suatu hipotesis ataupun teori, yaitu dengan cara eksperimen dengan pikiran dan eksperimen secara fisik. Contoh eksperimen dengan pikiran (thought experiment) adalah Schrodinger’s Cat (kucing schrodinger).

Dimana, eksperimen dengan pikiran hanya bisa dibuktikan apabila suatu teori atau hipotesis tidak memungkinkan untuk dijalankan di masa sekarang, atau penelitiannya hanya terdapat pada hari hari tertentu atau juga tidak mungkin bagi manusia untuk menjalankan eksperimennya.

Sedangkan eksperimen fisik seperti biasa mengamati dan mengevaluasi dan mencari tau titik kesalahan dalam suatu observasi.

Mungkin kamu tertarik: Bagaimana Cara Bulan Terbentuk?

Proses metode saintifik, mengajukan pertanyaan, membuat hipotesis, prediksi, eksperimen, analisis.
Ibnu al-Haytham dinobatkan oleh sebagian ilmuwan sebagai bapak metodologi saintifik karena emfasisnya terhadap eksperimen data dan hasilnya untuk dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan.

Perbedaan Hipotesis, Teori, dan Hukum

Secara singkat, akan saya jabarkan perbedaannya:

  • Hipotesis: pengajuan konsep tentang fenomena yang terjadi di sekitar kita
  • Teori: konsep yang sudah diuji berkali-kali, dan benar-benar menjelaskan tentang fenomena, terbukti validitas pengujiannya, terkadang hipotesis bisa berkembang menjadi teori.
  • Hukum: cara manusia menamakan fenomena yang terjadi di sekitar, namun belum menjelaskan secara detil mengenai apa yang menyebabkan fenomena tersebut.

Hukum dan Teori itu sangat berdampingan. Contoh Hukum Gravitasi Newton dengan Teori Relativitas Einstein. Newton tidak menjelaskan kenapa bisa terjadi gravitasi, barulah dalam Teori Relativitas Umum dijelaskan oleh Einstein tentang fenomena gravitasi (pembengkokan ruang dan waktu)

Bagus untuk dibaca: Di Masa Depan Bumi Tidak Akan Layak Huni Lagi

Hipotesis adalah pengajuan konsep dasar tentang fenomena alam yang diambil berdasarkan fakta yang valid, berawal dari asumsi atau pemikiran awal seorang ilmuwan sehingga terciptalah hipotesis.

Namun untuk bisa dikembangkan ke penelitian selanjutnya, hipotesis perlu meningkat levelnya menjadi teori, bagaimana tuh caranya?

Pada kontrasnya, hukum memaparkan tentang bagaimana sesatu bisa terjadi seperti halnya hukum gravitasi, tetapi tidak pernah menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi? Oleh karena itulah, di sini kita membutuhkan ‘Teori.’

Teori pada dasarnya adalah suatu observasi yang diambil dari fakta yang sudah dikembangkan menjadi hipotesis.yang telah diuji berkali-kali oleh para ilmuwan dan dites, mencari kemungkinan kesalahan yang ada dalam suatu observasi, ketika pengujian dinyatakan valid, ilmuwan sepakat untuk memberikan nama teori.

Baca juga: Charles Darwin Mengidap Penyakit Ganas Semasa Hidupnya

Namun tetap masih ada persimpangan karena adanya kemungkinan kesalahan, kita menobatkannya sebagai teori karena hal ini sesuai dengan realitas dan jika pengembangan di dunia modern terjadi, maka teori pun bisa berkembang, sama halnya dengan hukum.

Hukum gravitasi menjelaskan bahwa apel bisa jatuh karena ada gravitasi, gaya yang menarik ke inti bumi (well, lebih tepatnya ke pusat yang massanya jauh lebih massif daripada massa apel itu sendiri).

Lalu ada teori gravitasi yang dikemukakan oleh Einstein yaitu, Relativitas umum dan khusus yang menjelaskan bahwa gravitasi ada karena ruang dan waktu.

Jadi, jangan pernah menganggap bahwa “ah ini cuma teori,” walaupun masih ada probabilitas kesalahan, tetapi para ilmuwan telah memikirkan penalaran kausalitas terhadap teori yang diujikannya, sehingga teori tersebut dapat diaplikasikan di dunia nyata.

Oleh karena itu kita menyebutnya sebagai “jawaban sementara terhadap penjelasan sesuatu yang ada di alam semesta kita” sains terus berkembang, jadi jangan pernah menganggap bahwa teori salah, kita hanya perlu menyempurnakannya sampai dimana titik teori itu menjadi titik stabil tanpa adanya kesalahan.

Singkatnya, teori dan hukum sudah sesuai dengan hukum alam dan dipastikan benar dalam kondisi realita sekarang.

Untuk kamu yang suka astronomi: Bagaimana Cara Menjadi Astronot dan Apa Saja Syaratnya?

Sumber: Wikipedia. Scientific Method. https://en.wikipedia.org/wiki/Scientific_method

Penulis konten dengan memerhatikan strategi produksi konten agar tercapai tujuan SEO dan memberikan manfaat kepada pembaca dengan bacaan seringkas mungkin.
Exit mobile version