Sekuensing DNA dulu Rp 35 Triliun Sekarang Rp 4,2 juta

Sekuensing gen dulunya sangat mahal. The Human Genome One Project, program internasional untuk mendekode gen yang diluncurkan 1990, memakan waktu 13 tahun dan biaya Rp 35 Triliun.

dna sequencing pengurutan dna

Kemudian pada tahun 2007, penyempurna ilmu DNA James Watson menjadi orang pertama yang gennya diurutkan hanya kurang dari Rp 14 miliar rupiah (1 juta USD).

Lalu sejak itu, harga untuk pengurutan gen atau dna sequencing menurun seiring berkembangnya zaman.

Sekarang, Nebula Genomics, hasil inkubasi Harvard University yang diibuat oleh George Church, meluncurkan perangkat tes di rumah hanya $299 USD atau sekitar Rp 4.2 juta.

Nebula Genomics menawarkan layanan untuk melihat dan membaca kode genetik dari tiap-tiap orang.

Sekuensing ini lebih komprehensif dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya yang dipakai perusahaan 23andMe dan Ancestry, karena cara ini repersif modern.

Teknik yang digunakan oleh 23andMe dan Ancestry adalah genotyping. Yang mana hasilnya adalah tidak lengkap walaupun dengan harga yang lebih murah yaitu Rp 2.8 juta.

Jadi perbedaan yang digunakan Nebula dan kedua perusahaan tersebut seperti membaca sinopsis dan satu buku utuh.

Nebula Genomics melihat hal ini sebagai bisnis yang menjanjikan, namun ia khawatir akan penggunaan sekali pakai.

Karena tidak semua orang ingin mengecek gen DNA mereka untuk kedua kalinya, untuk mengakali hal tersebut, Nebula membuat paket langganan yang berisi informasi mengenai studi genetik terbaru dan kaitannya dengan gen pembeli.

Dengan harga Rp 140 ribu sebulan atau Rp 280 ribu setahun, pelanggan dapat menikmati akses informasi mengenai genetik mereka dan kaitannya kedepan terhadap kesehatan atau analisis lainnya.

Nebula bersamaa dengan kompetitornya memastikan bahwa privasi pembeli akan selalu terjaga dan hanya akan membagikannya pada lembaga penelitian kesehatan, sehingga pembeli punya akses yang penuh.

"Beberapa orang memilih melakukan pengurutan DNA untuk mempelajari sesuatu yang dapat mengubah sistem kesehatan mereka."

Komentar