fbpx

Manfaat Kerangka Karangan: Pengertian, Fungsi, Kriteria, Bentuk, Pola, Langkah & Syarat

8 Contoh Kerangka Karangan–Pengertian, Fungsi, Manfaat, Kriteria, Bentuk, Pola, Macam-macam, Langkah & Syarat–Buat ulasan kali ini kami hendak membahas mengenai Kerangka Karangan yang dimana dalam perihal ini meliputi contoh, penafsiran, guna, khasiat, kriteria, wujud, pola langkah serta ketentuan, ikuti pembahasan sepenuhnya dibawah ini.

A. Pengertian Kerangka Karangan

Kerangka karangan merupakan rencana teratur tentang pembagian serta penataan gagasan. Kerangka karangan yang belum final di sebut outline sedangkan sebaliknya kerangka karangan yang telah tersusun apik serta lengkap diucap outline final. Kerangka karangan ialah sesuatu rencana kerja yang muat garis-garis besar dari sesuatu karangan ataupun tulisan yang hendak ditulis ataupun dibahas, lapisan sistematis dari pikiran-pikiran utama serta pikiran-pikiran penjelas yang hendak jadi pokok tulisan.

Kerangka karangan ialah sesuatu rencana kerja yang muat garis-garis besar dari sesuatu karangan ataupun tulisan yang hendak ditulis ataupun dibahas, susun lapisan secara sistematis dari pikiran-pikiran utama serta pikiran-pikiran penjelas yang hendak jadi pokok tulisan, ataupun bisa pula didefinisikan selaku satu tata cara dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik serta bisa jadi dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.

a. Fungsi dari Kerangka Karangan

Berikut ini adalah sebagian guna kerangka karangan, terdiri atas:

  1. Mempermudah pengendalian variabel,
  2. Memperlihatkan pokok bahasan, sub-sub bahasan karangan serta berikan mungkin ekspansi bahasan tersebut sehingga membolehkan penulis menghasilkan suasana kreatif cocok dengan suasana yang di inginkan.
  3. Menghindari ulasan keluar dari sasaran yang telah diformulasikan dalam topik, judul, permasalahan, tujuan, serta kalimat tesis,
  4. Memudahkan penulis untuk menyusun karangan secara merata,
  5. Menghindari ketidaklengkapkan bahasan,
  6. Menghindari pengulangan pembahasaan ide.

B. Manfaat Kerangka Karangan

Kenapa tata cara ini sangat disarankan kepada para penulis, paling utama kepada mereka yang baru mulai menulis? Sebab tata cara ini hendak membantu tiap penulis buat menjauhi kesalahan-kesalahan yang tidak butuh dicoba. Ataupun secara terperinci bisa dikatakan kalau outline ataupun kerangka karangan bisa menolong penulis dalam hal-hal berikut:

a. Buat menyusun karangan secara teratur

Kerangka karangan membantu penulis buat memandang bentuk gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga bisa ditentukan apakah lapisan serta ikatan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu telah tepat, apakah gagasan-gagasan itu telah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.

Dengan kata lain, apakah tesis ataupun pengungkapan iktikad telah diperinci secara optimal serta urutannya telah disusun dalam pola tertib ataupun tidak. Demikian seterusnya, apakah tiap gagasan bawahan telah diperinci pula secara optimal serta sudah diurutkan pula dengan baik.

b. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda

Tiap tulisan dikembangkan mengarah ke satu klimaks tertentu. Tetapi saat sebelum menggapai klimaks dari segala karangan itu, ada beberapa bagian yang berbeda-beda. kepentingannya terhadap kalimat utama. Masing-masing bagian pula memiliki kalimat tertentu dalam bagiannya.

Biar pembaca bisa terpikat secara selalu mengarah kepada klimaks utama, hingga lapisan bagian-bagian wajib diatur pula sedemikian sehingga iercipta klimaks yang berbeda-beda yang bisa menarik atensi pembaca.

c. Menjauhi penggarapan suatu topik hingga 2 kali ataupun lebih

Terdapat mungkin sesuatu bagian butuh dibicarakan 2 kali ataupun lebih, cocok dengan kebutuhan masing-masing bagian, serta karangan itu. Tetapi penggarapan sesuatu topik hingga 2 kali ataupun lebih tidak butuh. Sebab perihal itu cuma hendak bawa dampak yang tidak menguntungkan misalnya: apabila penulis tidak sadar betul hingga pendapatnya menimpa topik yang sama pada bagian terdahulu lain, sebaliknya pada bagian setelah itu berlawanan dengan terdahulu.

Perihal ini tidak bisa diterima, kalau dalam satu karangan yang ssama ada komentar yang berlawanan satu sama lain. Di pihak lain menggarap sesuatu topik lebih serta satu kali cuma membuangwaktu, tenagadan modul. Jika memanglah tidak bisa dihindari hingga penuiis wajib menetapkan pada bagian mana topik tadi wajib dijabarkan, sebaliknya bagian yang lain lumayan dengan menunjuk kembali kepada bagian yang fain tadi (amati berikutnya Catatan Kaki).

d. Mempermudah penulis buat mencari modul pembantu 

Dengan mernpergunakan perincian-perincian dalam kerangka karangan penuiis dengan mudah hendak mencari data-data ataupun fakta- fakta buat memperjelas ataupun meyakinkan pendapatnya. Ataupun informasi serta fakta-fakta yang sudah dikumpulkan hendak dipergunakan buat bagian-bagian mana dari karangannya itu.

Apabila seseorang pembaca nanti mengalami karangan yang sudah siap, dia bisa menyusutkannya kembali kepada kerangka karangan yang hakikatnya sama dengan apa yang sudah dibuai pengarangnya. Dengan penyusutan ini pembaca hendak memandang bentuk, gagasan, struktur, dan nilai universal dari karangan itu.

Kerangka karangan ialah miniatur ataupun prototipe dari suatu karangan. Dalam wujud miniatur ini karangan tersebut bisa diteliti, dianaiisa, serta dipertimbangkan secara merata, bukan secara terlepas-lepas. Dengan demikian: tesis/pengungkapan = kerangka karangan= karangan-ringkasan.

C. Kriteria Karangka Karangan

Buat menyusun kerangka karangan yang baik, penulis butuh mencermati kriteria berikut:

  1. Memakai wujud kerangka standar,
  2. Memakai inden ataupun liurus secara tidak berubah-ubah, serta tidak mencampurkan bentuk-bentuk tersebut secara bertepatan dalam suatu kerangka karangan,
  3. Memakai penomoran secara tidak berubah-ubah (angka desimal, angka romawi, campuran angka romawi, huruf serta angka arab),
  4. Tiap judul bab diberi nomor secara tidak berubah-ubah,Setiap subbab diberi nomor secara konsisten,
  5. Tiap subbab diberi nomor secara tidak berubah-ubah,
  6. Tiap faktor detail subbab diberi nomor secara tidak berubah-ubah,
  7. Penomoran tidak melebihi 4 angka (digit), dan
  8. Kerangka karangan tidak sama dengan Catatan Isi.

D. Bentuk-Bentuk Kerangka Karangan 

Berikut ini ada sebagian bentuk-bentuk kerangka karangan, terdiri atas:

1. Berdasarkan Sumber Perumusan Teksnya

Terdiri atas:

a. Kerangka kalimat

Kerangka kalimat mempergunakan kalimat deklaratif (berita) yang lengkap buat merumuskan tiap topik, sub topik, ataupun sub-sub topik. Manfaat kerangka kaimat meliputi:

  1. Dia menekankan penulis buat merumuskan dengan tepat pas topik yang hendak diuraikan, dan perincian-rincian tentang topik tersebut.
  2. Perumusan topik-topik dalam masing-masing unit akan tetap jelas, meski sudah melalui bertahun-tahun. Penulis masih mampu menjajaki rencana aslinya, meski baru digarap bertahun-tahun setelah itu.
  3. Kalimat yang dirumuskan dengan baik serta teliti hendak jelas untuk siapapun, semacam untuk pengarangnya sendiri.

b. Kerangka topik

Kerangka topik diawali dengan perumusan tesis dalam suatu kalimat yang lengkap. Sesudah itu seluruh pokok, baik dari pokok-pokok utama ataupun pokok-pokok bawahan, dirumuskan dengan mencantumkan topiknya saja, dengan tidak mempergunakan kalimat yang lengkap. Kerangka topik diformulasikan dengan mempergunakan kata ataupun frasa. Karena itu kerangaka topik tidak begitu jelas serta teliti semacam kerangka kalimat. Kerangka topik khasiatnya kurang apabila dibanding dangan kerangka kalimat, paling utama bila tenggang waktu antara perencanaan antara kerangka karangan itu dengan penggarapannya lumayan lama.

c. Gabungan antara kerangka kalimat serta kerangka topik

Kerangka karangan yang mencampurkan antara kerangka kalimat serta kerangka topik. Kerangka karangan yang mencakup kalimat kabar serta serta sub-sub bagian ataupun pokok utama serta pokok bawahan.

2. Berdasarkan Bentuk Karangan

Terdiri atas:

a. Karangan Deskripsi

Wujud bentuk karangan semacam ini banyak di jumpai dalam bermacam betuk karangan, misalnya novel, cerpen, laporan ataupun kabar. Deskripsi merupakan Tulisan yang menggambarkan wujud objek pengamatan, rupa, sifat, rasa ataupun corak yang menggambarkan perasaan.

Suatu deskripsi di buat buat membantu pembaca membayangkan atmosfer memahami karakteristik orang, serta buat menguasai suat sensasi ataupun perasaan lewat ungkapan bahasa. Oleh karenanya dalam membuat deskripsi wajib berdasar pada pengamatan yang teliti serta penataan kalimat yang pas yang wajib dimulai dengan suatu cerminan yang universal, yang berbentuk kalimat ataupun frasa.

Terdapat bermacam tipe deskripsi yang berbentuk deskripsi penampilan, kesopanan sikap, sifat, suara, metode bicara, serta perilaku serta terdapat pula deskripsi lewat pencerapan salah satu pancaindera kita yang wajib disusun secara kronologis serta logis.

b. Karangan Narasi

Secara sederhana selaku cerita, kejadian ataupun peristiwa dalam satu urutan waktu yang terdapat pula tokoh yang mengalami suat konflik yang berisi kenyataan ataupun fiksi.

c. Karangan Eksposisi

Tulisan yang membagikan data, uraian, penjelasan ataupun uraian kepada pembaca yang bisa di temui pada tulisan edotorial, esai, petunjuk pemakaian ataupun pembahasan yang didasarkan pada perincian yang spesial serta teliti, penalaran, serta pemakaian contoh.

d. Karangan Argumentasi

Karangan yang bertujuan buat meyakinkan orang, meyakinkan komentar ataupun pendirian individu ataupun membujuk pihak lain supaya suatu komentar individu di terima yang terbuat dengan menyusun alibi ataupun pembuktian buat mendukung kalimat topik dengan membagikan uraian serta kenyataan yang tepat.

e. Karangan Persuasi

Karangan ini bertujuan pengaruhi pembaca buat berbuat suatu.

3. Berdasarkan Rinciannya

Terdiri atas:

a. Kerangka Karangan Sementara

Kerangka karangan sementara ataupun non formal merupakan suatu perlengkapan alat bantu, sebuah penuntun untuk sesuatu tulisan yang terencana. Sekalian dia jadi bawah buat penelitiaan kembali guna mengadakan perombakan-perombakan yang dikira butuh. Sebab kerangka karangan ini bertabiat sedangkan, hingga tidak butuh disusun secara terperinci. Namun sebab dia pula ialah suatu kerangka karangan hingga dia wajib membolehkan pengarangnya buat menggarap persoalannya secara dinamis, sehingga perhatian wajib dicurahkan seluruhnya pada penyusunan-penyusunan kalimat-kalimat, alinea-alinea, ataupun bagian-bagian tanpa memepersoalkan lagi gimana lapisan karangannya, ataupun gimana lapisan bagian-bagiannya.

Perencanaan kerangka karangan sedangkan dicoba cocok dengan prosedur. Mula-mula penulis merumuskan tesis berdsarkan topik serta iktikad utama dari karangan itu. Setelah itu dibawah tesis itu terbuat perinciaan berbentuk pencatatan seluruh perihal yang bisa jadi dijadikan pokok- pokok utama ataupun pokok-pokok bonus untuk tesis tadi. Pokok- pokok yang memiliki ikatan satu sama lain atua mempunyain ikatan logis di hubung-hubungkan dengan ciri panah, ataupun pokok yang tidak memiliki ikatan dengan tesis dicoret. Pokok-pokok yang diterima selaku perinciaan dari tesis kemudian diurutkan cocok dengan pola lapisan yang diseleksi, dengan diberi nomor-nomor urut cocok dengan pola lapisan.

Kerangka karangan non-formal umumnya terdiri dari tesis serta pokok-pokok utama, sangat besar 2 tingkatan perincian. Alasan buat menggarap suatu kerangka karangan sedangkan bisa berbentuk topik yang tidak lingkungan ataupun sebab penulis lekas menggarap karangan itu.

b. Kerangka Karangan Formal

Kerangka karangan resmi umumnya mencuat dari penimbanga kalau topik yang hendak digarap bersifat sangat lingkungan, ataupun sesuatu topik yang simpel namun penulis tidak bermaksud buat lekas menggarapnya.

Proses perencanaan suatu karangan resmi menjajaki prosedur yang sama semacam kerangka non-formal. Tesisnya diformulasikan dengan teliti serta pas, setelah itu dipecah-pecah jadi bagian-bagian bawahan (sub-ordinasi) yang dibesarkan buat menarangkan gagasan sentralnya. Tiap subbagian bisa diperinci lebih lanjut jadi bagian- bagian yang lebih kecil, sepanjang dibutuhkan buat menguraikan perkara itu sejelas- jelasnya. Dengan perincian yang sekian banyak, suatu kerangka karangan bisa menggapai 5 ataupun 6 tingkatan perincian. Sesuatu tesis yang diperinci minimun atas 3 tingkatan perincian telah bisa diucap kerangka resmi.

E. Macam-Macam Kerangka Karangan

1. Kerangka Karangan Ilmiah Tesis

Tesis merupakan karya tulis ilmiah selaku fakta keahlian akademik mahasiswa dalam riset serta pengembangan keilmuan pada salah satu bidang keilmuan yang lagi ditempuh. 

2. Kerangka Karangan Ilmiah Essai

3. Kerangka Karangan Ilmiah Makalah

4. Karangan Ilmiah Artikel Hasil Penelitian

5. Kerangka Karangan Ilmiah Skripsi (Penelitian Kuantitatif)

6. Kerangka Karangan Ilmiah Skripsi (Penelitian Kualitatif)

F. Pola Penyusunan Kerangka Karangan

Buat mendapatkan sesuatu lapisan kerangka karangan yang teratur digunakan sebagian jenis lapisan, terdiri atas:

1. Pola Alamiah

Pola alamiah merupakan sesuatu urutan unit- unit kerangka karangan cocok dengan kondisi yang nyata di alam, karena itu lapisan alamiah itu didasarkan pada ketiga ataupun keempat ukuran dalam kehidupan manusia: atas–dasar, melintang–menyebrang, saat ini–nanti, dahulu–saat ini, timur–barat, serta sebagainya. Oleh karena itu lapisan alamiah bisa dipecah jadi 3 bagian utama ialah:

a. Urutan waktu atau urutan kronologis  

Urutan yang di dasarkan pada runtunan kejadian ataupun tahap-tahap peristiwa. Umumnya tulisan semacam ini kurang menarik atensi minat pembaca.

Contoh : Topik (riwayat hidup seseorang penulis)

  1. asal usul penulis
  2. pendidikan penulis
  3. kondisi keadaan penulis
  4. kemauan penulis
  5. karir penulis

b. Urutan ruang (sposial)

Landasan yang sangat berarti, apabila topik yang di uraikan memiliki pertalian yang sangat erat dengan ruang ataupun tempat. Urutan ini umumnya di pakai dalam tulisan–tulisan yang bersifat deskriptif.

Contoh : Topik (hutan yang sering mengalami kejadian kebakaran)

  1. Di wilayah Kalimantan
  2. Di wilayah Sulawesi
  3. Di wilayah Sumatra

c. Topik yang ada

Sesuatu pola peralihan yang bisa di masukkan dalam pola alamiah merupakan urutan bersumber pada topik yang terdapat. Sesuatu kejadian telah di tahu dengan bagian–bagian tertentu. Buat menggambarkan perihal tersebut secara lengkap, ingin tidak ingin bagian-bagian itu wajib di jelaskan berturut–turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih berarti dari yang lain, tanpa berikan asumsi atas bagian–bagiannya itu.

2. Pola Logis

Manusia memiliki sesuatu kesanggupan dimana manusia lebih sempurna dari makhluk yang lain, ialah mampu mengalami seluruh suatu yang terletak di sekitarnya dengan keahlian ide budinya. Urutan logis sama sekali tidak terdapat hubungannya dengan sesuatu karakteristik yang intern dalam materinya, namun kiat dengan asumsi penulis. Asumsi yang cocok dengan jalur benak buat menciptakan landasan untuk tiap perkara, sanggup di tuang dalam sesuatu lapisan ataupun urutan logis. Urutan logis sama sekali tidak terdapat ikatan dengan sesuatu karakteristik yang intern dalam materinya, namun erat dengan asumsi penulis.

Dinamakan pola logis sebab mengenakan pendekatan bersumber pada jalur pikir ataupun metode pikir manusia yang senantiasa mengamati suatu bersumber pada logika. Macam- macam, urutan logis yang diketahui merupakan:

a. Urutan klimaks dan anti klimaks

Urutan ini timbul selaku tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang sangat menonjol.

Contoh : Topik (turunnya Suharto)

  1. Keresahan masyarakat
  2. Merajalela praktek KKN
  3. Keresahan masyarakat
  4. Kerusuhan masyarakat sosial
  5. Tuntutan reformasi menggema

b. Urutan kausal

Mencakup 2 pola ialah urutan dari karena ke akibat serta urutan akibat ke karena. Pada pola awal sesuatu permasalahan di anggap selaku karena, yang setelah itu di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat-akibat yang bisa jadi terjalin. Urutan ini sangat efisien dalam penyusunan sejarah ataupun dalam membicarakan persoalan-persoalan yang di hadapi umat manusia pada biasanya.

Contoh : Topik (krisis moneter menyerang tanah air)

  1. Melonjaknya harga bahan pangan
  2. Pemicu krisis moneter
  3. Dampak akibat terjadi krisis moneter
  4. Solusi pemecahan permasalahan krisis moneter
  5. Urutan pemisahan masalah

Di mulai dari sesuatu permasalahan tertentu, setelah itu bergerak mengarah kesimpulan universal ataupun pemecahan atas permasalahan tersebut. Sekurang-kurangnya penjelasan yang mempergunakan landasan pemecahan permasalahan terdiri dari 3 bagian utama, ialah deskripsi menimpa kejadian ataupun perkara tadi, serta kesimpulannya alternatif–alternatif buat jalur keluar dari permasalahan yang di hadapi tersebut.

Contoh : Topik (virus flu babi / H1N1 serta upaya penanggulangannya)

  1. Apa itu virus H1N1
  2. Bahaya virus H1N1
  3. Cara penanggulangannya
  4. Urutan umum-khusus

Diawali dari ulasan topik secara merata (universal/umum), kemudian di simak dengan ulasan secara terperinci (khusus).

Contoh : Topik (Pengaruh dampak dari internet)

  • Para pangguna internet
  1. Anak-anak
  2. Remaja
  3. Dewasa
  • Manfaat dari internet
  1. Media informasi
  2. Bisnis
  3. Jaringan social
  1. Urutan familitas

Urutan familiaritas diawali dengan mengemukakan suatu yang telah di tahu, setelah itu berangsur–angsur pindah kepada hal-hal yang kurang di tahu ataupun belum di tahu. Dalam keadaan–keadaan tertentu metode ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.

  1. Urutan akseptabilitas

Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Apabila urutan familiaritas mempersoalkan apakah sesuatu benda ataupun perihal telah diketahui ataupun tidak oleh pembaca, hingga urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah sesuatu gagasan di terima ataupun tidak oleh para pembaca, apakah sesuatu komentar di setujui ataupun tidak oleh para pembaca.

Pada dasarnya, buat menyusun karangan diperlukan langkah-langkah dini buat membentuk Kerutinan tertib serta sistematis yang mempermudah kita dalam meningkatkan karangan.

G. Langkah-Langkah Menyusun Kerangka Karangan

Berikut ini ada sebagian langkah-langkah menyusun kerangka karangan, terdiri atas:

1. Menentukan tema serta judul

Saat sebelum kamu ingin melangkah, awal kali dipikirkan merupakan ingin kemana kita berjalan? kemudian apabila menulis, apa yang hendak kita tulis?

  • Tema

Tema merupakan pokok perkara, kasus, ataupun pokok pembicaraan yang mendasari sesuatu karangan. Sebaliknya yang diartikan dengan judul merupakan kepala karangan. Jika tema cakupannya lebih besar serta menyangkut pada perkara yang dinaikan sebaliknya judul lebih pada uraian awal (penanda pendek) isi karangan yang hendak ditulis.

Tema sangat bepengaruh terhadap pengetahuan penulis. Terus menjadi banyak penulis menyesuikan membaca novel, terus menjadi banyak kegiatan menulis hendak memperlancar penulis mendapatkan tema. Tetapi, untuk pendatang baru butuh mencermati sebagian perihal berarti supaya tema yang dinaikan gampang dibesarkan. antara lain:

  1. Jangan mengambil tema yang bahasannya sangat luas.
  2. Pilih tema yang kita gemari serta kita yakini bisa kita kembangkan.
  3. Pilih tema yang sumber ataupun bahan-bahannya bisa di dapat dengan mudah kita peroleh.

Terkadang memanglah dalam memastikan tema tidak selamanya senantiasa cocok dengan syarat-syarat diatas. Contohnya dikala lomba mengarang, tema telah disediakan tadinya serta kita cuma dapat memanfaatkannya. Kala tema telah didapatkan, butuh dijabarkan ataupun mangulas tema jadi sesuatu wujud karangan yang terencana serta sistematis. Salah satu triknya dengan memastikan judul karangan. Judul yang baik merupakan judul yang bisa menyiratkan isi totalitas karangan kita.

  • Judul

  1. Terdapat 2 metode pembatasan topik? judul karangan.
  2. permasalahan apa, kenapa, gimana, di mana, serta kapan (5W+1H).
  3. Judul merupakan perincian ataupun penjabaran dari topik.
  4. Judul lebih khusus serta sering telah menyiratkan permasalahan atau

variabel yang akan dibahas.

  1. Judul tidak harus sama dengan topik.
  2. Bila topik sekaligus menjadi judul, umumnya karangan hendak bersifat umum serta ruang lingkupnya sangat luas.
  3. Judul terbuat sehabis berakhir menggarap tema, sehingga dapat terjamin kalau judul itu sesuai dengan temanya.
  4. Suatu judul yang baik hendak memicu atensi pembaca serta hendak sesuai dengan temanya.
  5. Judul hanya menyebut ciri-ciri identitas yang utama ataupun yang terutama dari karya itu, sehingga pembaca sudah dapat membayangkan apa yang akan diuraikan dalam karya itu.
  6. Terdapat judul yang mengatakan iktikad pengarang, misalnya dalam suatu laporan eksposisi, contohnya:“ Sesuatu Riset tentang Korelasi antara Kejahatan Kanak- kanak serta Tempat Kediaman yang Tidak Mencukupi”

* Syarat dan ketentuan judul yang baik 

  1. harus relevan, judul wajib memiliki ikatan dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
  2. judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku ataupun karangan.
  3. harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, namun wajib berupa kata ataupun rangkaian kata yang pendek. Apabila wajib membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang pendek dengan judul yang panjang.
  4. tidak provokatif.
    Judul karangan sedapat-dapatnya :
    A. singkat serta padat,
    B. menarik perhatian, serta
    C. menggambarkan garis besar (inti) pembahasan/ulasan.

Contoh : Upaya merendahkan resiko bahaya letusan gunung Penanggulangan krisis air di Jakarta

Tujuan butuh diformulasikan dengan gamblang supaya jelas apa yang hendak dicapai oleh tulisan ini. Tujuan bisa diungkapkan dengan kata operasional:

  1. Menanggulangi
  2. Mengurangi
  3. Menemukan
  4. Meningkatkan
  5. Mengoptimalkan
  6. Mengevaluasi
  7. Mengendalikan

2. Mengumpulkan bahan

Sehabis memiliki tujuan, serta ingin melangkah, kemudian apa bekal kamu? Saat sebelum melanjutkan menulis, butuh terdapat bahan yang jadi bekal dalam menampilkan eksistensi tulisan. Gimana ilham, serta inovasi bisa dicermati jika tidak terdapat perihal yang jadi bahan ilham tersebut timbul. Buat apa ide bagus jika tidak dibutuhkan. Butuh terdapat bawah bekal dalam melanjutkan penyusunan.

Buat menyesuaikan, kumpulkanlah kliping- kliping permasalahan tertentu (umumnya yang menarik penulis) dalam bermacam bidang dengan rapih. Perihal ini butuh dibiasakan calon penulis supaya kala diperlukan dalam tulisan, penulis bisa membuka kembali kliping yang tersimpan cocok bidangnya. Banyak metode mengumpulkannya, tiap-tiap penulis memiliki metode cocok pula dengan tujuan tulisannya.

  1. Menyeleksi Bahasa

Sehabis terdapat bekal, serta mulai berjalan, tetapi bekal mana yang hendak dibawa? supaya tidak sangat bias serta abstrak, butuh diseleksi bahan- bahan yang cocok dengan tema ulasan. Polanya lewat klarifikasi tingkatan urgensi bahan yang sudah dikumpulkan dengan cermat serta sistematis. berikut ini petunjuk- petunjuknya:

  • Catat perihal penting semampunya.
  • Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
  • Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.
  1. Membuat Kerangka

Butuh kita susun selangkah demi selangkah supaya tujuan dini kita dalam menulis tidak lenyap ataupun melebar ditengah jalur. Kerangkakarangan menguraikan masing-masing topik ataupun permasalahan jadi sebagian bahasan yang lebih fokus serta terukur.

Kerangka karangan belum tentu sama dengan Daftar Isi, atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna.

  1. Mengembangkan Kerangka Karangan

Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan.

Pengembangan karangan pula jangan hingga menumpuk dengan pokok kasus yang lain. Buat itu pengembangannya wajib sistematis, serta terencana. Alur pengembangan pula wajib disusun secara cermat serta teliti. Terus menjadi sistematis, logis serta relevan pada tema yang ditetapkan, terus menjadi berbobot pula tulisan yang dihasilkan.

Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :

  1. Mencatat gagasan. Perlengkapan yang gampang digunakan merupakan tumbuhan benak (diagram yang menerangkan gagasan2 yang mencuat timbul)
  2. Mengendalikan urutan gagasan.
  3. Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab
  4. Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap

Merangka karangan yang baik adalah kerangka yang urut serta logis. Apabila ada ilham yang bersilangan, hendak mempersulit proses pengembangan karangan (karangan tidak mengalir).

* Syarat Kerangka Karangan yang Baik  

Berikut ini ada sebagian ketentuan kerangka karangan yang baik, terdiri atas:

  1. Tesis ataupun pengungkapan pengungkapan harus jelas. Memilih topik yang ialah perihal yang khas, setelah itu tentukan tujuan yang Jelas. Kemudian buatlah tesis ataupun pengungkapan masksud.
  2. Masing-masing unit cuma memiliki satu gagasan. Apabila satu unit ada lebih dari satu gagasan, hingga unit tersbut wajib dirinci.
  3. Pokok-pokok dalam kerangka karangan wajib disusun secara logis, sehingga rangkaian ide ataupun benak itu tergambar jelas.
  4. Wajib memakai simbol yang tidak berubah-ubah. Pada dasarnya buat menyusun karangan diperlukan langkah- langkah dini buat membentuk Kerutinan tertib serta sistematis yang mempermudah kita dalam meningkatkan karangan. kali ini kita coba tinjau terlebih dulu langkah-langkah menyusun karangan satu per satu.

* Jenis jenis Kutipan

  1. Kutipan langsung

Kutipan Langsung yakni kutipan yang sama persis dengan bacaan aslinya, tidak boleh terdapat pergantian. Jika terdapat perihal yang dinilai salah/ meragukan, kita beri ciri (sic!), yang maksudnya kita hanya mengutip cocok dengan aslinya serta tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu. Demikian pula bila kita membiasakan ejaan, berikan huruf kapital, garis dasar, ataupun huruf miring, kita butuh menerangkan perihal tersebut, misal [huruf miring dari pengutip],[ejaan disesuaikan dengan EYD], serta lain-lain. Apabila dalam kutipan ada huruf ataupun kata yang salah kemudian dibetulkan oleh pengutip.

  1. Kutipan Tidak Langsung (kutipan isi)

Dalam kutipan tidak langsung kita cuma mengambil intisari komentar yang kita kutip. Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan bacaan yang kita buat serta tidak harus diapit ciri petik. Penyebutan sumber bisa dengan sistem catatan kaki, bisa pula dengan sistem catatan langsung (catatan perut).

* Metode penulisan kutipan

  •  Cara Mengutip dalam Teks/Naskah :

Kutipan ialah suatu pinjaman kalimat ataupun komentar dari seseorang penulis, ataupun perkataan yang ada dalam novel ataupun majalah. Kutipan befungsi buat menegaskan isi dari penjelasan ataupun meyakinkan kebenaran dari apa yang diucapkan. Pada biasanya metode mengutip dipecah jadi 2, ialah:

  • Kutipan Langsung

Kutipan yang kata-katanya utuh dilansir seluruh dari suatu naskah oleh penulis tanpa merubah sedikitpun isi dari suatu naskah tersebut.

Metode dalam melaksanakan kutipan, bila kutipan panjangnya kurang dari 4 baris dimasukan kedalam bacaan:

  1. Diketik semacam ketikan teks
  2. Dimulai serta diakhir dengan tanda petik
  3. Sumber referensi ditulis langsung saat sebelum ataupun setelah bacaan kutipan
  4. Format penyusunan diakhiri (Penulis, Tahun: Halaman)

Metode dalam mengutip bila kutipan panjangnya lebih dari 4 baris:

  1. Diketik satu spasi
  2. Diawali 7 ketukan dari batasan tepi kiri
  3. Sumber rujukan ditulis langsung saat sebelum teks kutipan
  4. Apabila penulis mau berikan uraian ataupun menggaris bawahi wajib diberi penjelasan yang terletak diantara ciri kurung

H. Contoh Kerangka Karangan

Berikut ini ada sebagian contoh kerangka karangan, terdiri atas:

  1. Kerangka sistem lekuk, dengan angka romawi, huruf kapital, serta angka arab.

Upaya Tingkatkan Kreativitas Baru Mahasiswa dalam Kewirausahaan

I. Pendahuluaan

II. Kemampuan Akademik Mahasiswa

  1. Kemampuan Kecerdasan
  2. Kemampuan Bidang Studi
  3. Tenaga Kerja Intelektual

III. Paradigma Kewirausahaan

  1. Kemampuan Kewirausahaan
  2. Sumber Kreativitas Baru
  3. Budaya Kewirausahaan

IV. Strategi Berwirausahaan

A. Strategi Awal

  1. Konsep
  2. Modal
  3. Produk
  4. Pasar

B. Penilaian Perencanaan serta pengembangan

C. Perencanaan Awal,

D. Pengembangan Semester Pertama

E. Penilaian serta Pengembangan Semester Kedua

F. Penilaian, Perencanaan serta Pengembangan Tahun Kedua

  1. Kerangka Sistem Lekuk dengan Angka desimal

Upaya Meningkatkan Kreativitas Baru Mahasiswa dalam Kewirausahaan

  1. Pendahuluan
  2. Kemampuan Akademik Mahasiswa

2.1 Kemampuan Kecerdasan

2.2 Kemampuan Bidang Studi

2.3 Tenaga Kerja Intelektual

  1. Paradigma Kewirausahaan

3.1 Kemampuan Kewirausahaan

3.2 Sumber Kreatif Baru

3.3 Budaya Kewirausahaan

  1. Strategi Berwirausaha

4.1  Strategi Awal

4.1.1  Konsep

4.1.2  Modal

4.1.3  Produk

4.1.4  Pasar

4.2 Penilaian Strategi Awal,

4.3 Perencanaan serta Pengembangan Tahun Pertama

4.4 Penilaian, Perencanaan, serta Pengembangan Tahun Kedua

  1. Kesimpulan
  1. Kerangka Sistem Lurus dengan Angka Romawi dan Desimal

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Batasan Masalah

1.5 Manfaat Penelitian

BAB II KERANGKA TEORI

2.1 Deskripsi Teori,

2.1.1 Deskripsi teoritik variabel pertama (definisi, gambaran, konsep)

2.1.2 Deskripsi teoritik variabel kedua (definisi, gambaran, konsep)

2.2 Kerangka berfikir

2.3 Rumusan Hipotesis

BAB III METODE PENELITIAN

  1. Metode penelitian
  2. Populasi dan sampel
  3. Variabel
  4. Instrumen
  5. Prosedur Pengukuran
  6. Metode Analisis

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Data

4.2 Pengujian data

4.3 Hasil penguji

BAB V KESIMPULAN SERTA SARAN

5.1 Kesimpulan (interpretasi atas hasil penelitian/riset)

5.2 Saran

  1. Kerangka Karangan dengan romawi lurus model kerangka penelitian/riset kualitatif

BAB I Pendahuluan

BAB II Teori Acuan

BAB III Metodologi Penelitian

BAB IV Hasil Penelitian

BAB V Pembahasan

BAB VI Kesimpulan, Implikasi (saran)

  1. Kerangka karangan dengan kombinasi romawi desimal lurus model kerangka penelitian kualitatif, contoh model kajian teoritik

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar belakang

1.2 Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

BAB II Kajian Pustaka

2.1 Deskripsi teori

2.2 Analisis

2.3 Sintetis

BAB III HASIL PENELITIAN

3.1 Interpretasi

3.2 Implikasi

BAB IV KESIMPULAN

(Tindak lanjut)

  1. Kerangka karangan dengan romawi lurus model kerangka penelitian kualitatif, untuk penulisan artikel

Pola evaluasi: Sari tema–kekuatan–kelemahan–integritas

I Sari tema

II Deskripsi umum

III Kekuatan/keunggulan pertama

IV Kekuatan/keunggulan kedua

V Kelemahan pertama serta solusi

VI Kelemahan kedua serta solusi

VII Integritas (induktif)

  1. Kerangka karangan dengan romawi dan desimal lurus model kerangka penelitian kualitatif untuk penulisan makalah

I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang serta masalah

1.2 Pentingnya pembahasan masalah

1.3 Sudut pandang serta pendekatan

1.4 Pembatasan masalah

II PEMBAHASAN

2.1 Masalah yang dihadapi

2.2 Cara pemecahan masalah

2.3 Dukungan

2.4 Hambatan

III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

Daftar Pustaka:

  1. Budi Karyanto,umum.2009. Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi Pekalongan: STAINPekalongan Press.
  2. Keraf, Gorys ke.1997. komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa. jakarta: Nusa indah.
  3. Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.Jakarta:Erlangga.
  4. Widjono. 2005. bahasa indonesia. jakarta: PT Grasindo.
  5. Departemen Pendidikan Nasional. 2011. Bahasa Indonesia Non Kependidikan. Serang: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Demikianlah pembahasan mengenai 8 Contoh Kerangka Karangan – Pengertian, Fungsi, Manfaat, Kriteria, Bentuk, Pola, Langkah & Syarat semoga dengan terdapatnya pembahasan tersebut bisa menambah wawasan serta pengetahuan Kalian, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Sumber Gambar : Pexels Free Image