virus variola mematikan cacar air kematian

Invasi Virus Mengerikan yang Kembali Hidup Setelah Dinyatakan Punah

The Last Days of Smallpox karangan Mark Pallen mengajarkan kita tentang betapa mematikannya virus yang datang dari kematian
The Last Days of Smallpox karangan Mark Pallen mengajarkan kita tentang betapa mematikannya virus yang datang dari kematian

Virus adalah parasit yang mana agar bisa hidup membutuhkan sel inang, tapi apa yang terjadi apabila virus yang sudah dinyatakan “mati” dan punah kembali lagi ke dunia nyata sekarang? Inilah kisah soal virus yang datang dari kematian.

Kisah Janet Parker: Orang Terakhir yang Meninggal Karena Smallpox

Pada 11 Agustus 1978, Janet Parker sedang bersiap untuk kerja, dan pada saat itu juga kepalanya terasa sangat pening. Dia pikir dirinya sedang mengalami flu: seluruh tubuhnya terasa sakit.

Tapi, banyak yang harus ia lakukan pada hari itu, jadi dia dengan suaminya, Joseph, berkendara ke University of Birmingham, tempat Janet bekerja sebagai fotografer di sekolah kedokteran bidang anatomi.

virus yang datang dari kematian

Pada umurnya yang ke-40, kehidupan Janet Parker sudah cukup stabil. Dia dengan suaminya yang bekerja sebagai Insinyur Telekomunikasi mempunyai rumah mewah di Kings Norton, daerah pemukiman sub-urban di Birmingham.

Mereka mempunyai dua anjing dan tinggalnya tidak jauh dari orang tua mereka. Janet Parker adalah anak sebatang kara dan ayahnya bekerja sebagai kurator berlian. Pada saat kecil, dia bersekolah di grammar school dan tetap di situ hingga umurnya 16 tahun.

Tidak seperti anak-anak lainnya dengan latar belakang yang sama. Pekerjaan pertamanya adalah untuk memotret tempat kejadian perkara (crime scene), dan dirinya sering dipanggil dari Kepolisian West Midlands.

Di tengah malam yang sunyi pun dia harus siap untuk memotret tempat kejadian perkara kejahatan, di mana ia akan melihat tubuh dari pembunuhan dengan luka yang banyak dan darah berceceran.

Di tahun 1976, pada umurnya yang ke-37, dia mendapatkan pekerjaan dengan jam kerja yang lebihnormal, sebagai fotografer di Sekolah Kedokteran University of Birmingham pada kampus Edgbaston.

Pekerjaannya hanya memfoto organ dalam untuk keperluan material akademik. Seringkali juga ia diberikan instruksi untuk memfoto primata; Sekolah Kesehatan tempat ia bekerja mempunyai koloni hewan yang banyak kala itu, ada unta, babon, marmoset, kelinci, dan tikus.

Tidak ada staf kantin: malah, hanya ada satu grup pekerja, kebanyakan perempuan, bertemu di koridor departemen anatomi. Mereka dikenal sebagai “coffee club“. “Kita akan bertemu di pagi hari, makan siang, dan saat petang,” kata Glenda Miller, 70, seorang teknisi peneliti. “Kita akan mengobrol banyak hal. Kadang, Janer Parker belajar untuk mendapatkan gelar Universitas Terbuka (Open University).

Absennya Janet Parker dari Tempat Kerja Membawa Petaka

Pada hari senin, 14 Agustus, Janet Parker absen hari itu. Hari rabunya, Miller bertanya keadaan Janet apakah dia baik-baik saja. Janet lalu mengatakan bahwa dalam dirinya terdapat spot merah (bintik merah) di dada, punggung, dan muka. Kata dokter pribadi Janet, itu disebabkan oleh cacar biasa, walaupun ibunya skeptis terhadap pernyataan dokter itu.

Kemudian dokternya memberikan obat antibiotik dan pereda rasa sakit. “Janet merasa seperti kelelahan,” kata Miller. “Lalu ia bilang, ‘saya tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya dalam hidup saya.’ Ya seperti itulah, saya tidak dengar lagi.”

Setelah satu minggu lebih, pada Kamis 24 Agustus, Janet malah didiagnosa menderita penyakit Cacar Variola (smallpox), penyakit yang serius, mengancam nyawa, dan tinggi tingkat penularan—padahal penyakitnya sudah dimusnahkan setahun sebelumnya.

virus variola mematikan cacar air kematian
Tempat Janet Parker diisolasi. The Guardian/Mirrorpix/Getty Images

Diagnosa itu memicu keadaan darurat kesehatan di Birmingham, yang saat itu berpopulasi lebih dari satu juta jiwa didebatkan di parlemen World Health Organization (WHO), di kantor pusat Geneva, Swiss.

Dalam beberapa hari melakukan penelitian di lab tersebut, 10 negara meminta holidaymakers (pengelana/traveler dari Inggris Raya untuk melakukan vaksinasi sebelum mereka dapat masuk ke negara lain.

Baca juga: Gambaran Pandemi COVID-19 dalam 12 Bulan ke Depan

Misteri tentang bagaimana Janet bisa terkena cacar oleh virus variola, dan konsekuensi tragis, membuat banyak pihak terlibat melakukan penelitian dan investigasi, hingga kisahnya masuk ke dalam sebuah buku berjudul “The Last Days of Smallpox” oleh Mark Pallen, profesor genomik mikrobial di University of East Anglia. Pallen menyatakan argumennya, namun penyebab kenapa Janet bisa terinfeksi belum bisa diketahui secara jelas.

Kasus Janet Parker meninggalkan luka yang berat. Pada 11 September 1978, ia meninggal dengan kondisi sudah sangat lemah. Virus itu menyerang sistem imun, membuat ia terkena pneumonia dan kehilangan indra penglihatannya.

Janet adalah satu-satunya orang terakhir yang meninggal karena cacar smallpox kala itu. Beberapa hari sebelumnya, bapaknya meninggal karena dianggap stres terhadap kondisi. Lalu, Henry Bedson, pemilik laboratorium bedson tempat ia bekerja bunuh diri karena tidak bisa menahan situasi yang ada.

Sekarang kasusnya mempunyai resonansi baru. Teror dari virus mematikan, menggelapkan kota-kota yang tadinya hidup, mengeluarkan banyak amarah dan emosi dari pihak yang kehilangan anggota keluarganya, para dokter yang bekerja sebagai garis depan — kehidupan berubah selamanya. Apakah kisah 40 tahun lalu jadi pelajaran kita untuk menangani krisis global sekarang ini? Tentang bahaya virus corona?

Mungkin kamu tertarik: Perbedaan Hipotesis, Teori, dan Hukum dalam Sains


Smallpox berasal dari virus variola yang sebelumnya sudah dieradikasi alias dimusnahkan. Cacar smallpox ini sangat berbahaya karena menyerang sistem imun. Gejala pertamanya adalah demam tinggi, kepala pusing, sakit punggung, dan muntah-muntah.

virus cacar smallpox berbahaya Inggris kematian sainsologi
The Guardian/Mirrorpix/Getty Images

Lalu, gejala yang mirip cacar biasa muncul seperti ada bintik merah, yang menyebar ke seluruh tubuh. Mereka yang selamat dari penyakit itu akan mempunyai luka permanen di kulitnya.

Setelah ribuan tahun lamanya, smallpox sudah menjadi suatu fakta kehidupan yang tidak bisa dihindari. Yang sudah menewaskan jutaan jiwa, kemudian menyebar ke seluruh kontingen Eropa dan Amerika dari para Crusader.

Smallpox menurut sebagian orang biasa, tapi mematikan bagi sebagian lainnya. 30% dari pasien yang menderita cacar smallpox akan meninggal (dibandingkan COVID-19 yang hanya 1%) dan dengan kontras menunjukkan kerentanan anak terhadap COVID-19.

Baca juga: 5 Hal yang Kita Pelajari dari Virus Corona Sejak Dimulainya Pandemi

Pada saat tahun 1967 itu, masih ada sekitar 15 juta kasus di 44 negara, dari Nepal hingga ke Brazil dan Afghanistan. Mereka yang terdampak parah termasuk negara-negara yang miskin. Tahun itu, World Health Organization meluncurkan program Pemusnahan Cacar Smallpox, sebuah usaha 10 tahun menangani virus berbahaya, yang melibatkan 150 ribu pekerja dari 50 negara.

Lalu administrasi kesehatan publik di Inggris Raya menyatakan bahwa akan mengisolasi total daerah Birmingham, hingga pada 11 Oktober 1978 dinyatakan bebas dari smallpox. Hal ini membuat pena sejarah semakin tajam dalam mempelajari dinamika kehidupan ke depan, apalagi dengan kondisi sekarang, bagaimana kabar vaksin virus corona?

Tertarik untuk lebih tahu info soal virus? Ini dia 9 Virus Mematikan dalam Sejarah Manusia

Elang
Menulis dengan hati, mengerjakan dengan jujur, dan memberikan manfaat kepada pembaca — sains adalah cara kita berinteraksi dengan masa depan, juga memberikan cermin refleksi di masa lalu.