Strategi Cerdas Timur Lenk dalam invasinya ke India

Timur Lenk, atau yang biasa disebut Timur adalah pendiri sekaligus penguasa terhebat Dinasti Timuriyyah. Selain dikenal karena pasukan berkudanya yang menyerupai pasukan berkuda orang-orang Mongol, Timur Lenk juga dikenal karena kecerdasan dan juga strategi-strategi cemerlangnya dalam menghadapi musuh. Berikut ini akan penulis sampaikan salah satu contoh invasi Timur Lenk yang sarat akan ide cemerlang, yaitu invasi Timur Lenk ke India yang berhadapan dengan Nasir Mahmud Tughluq.

Pada tahun 1398 Timur Lenk bersama pasukannya memutuskan untuk menginvasi daerah Hindustan/India yang pada saat itu, Nasir Mahmud Tughluq merupakan penguasa terkuat di India. Timur Lenk kemudian menyeberangi Sungai Indus pada September 1398 dan berencana menyerang Kota Delhi pada bulan Desember.Ilustrasi pasukan bergajah

Hal yang paling ditakutkan Timur Lenk dari pasukan Nasir Mahmud Tughluq adalah pasukan bergajahnya. Pasukan bergajah Nasir Mahmud Tughluq terkenal mematikan karena disamping fisiknya yang kuat, gajah-gajah tersebut juga dibekali dengan baju pelindung dan juga racun pada setiap gading gajah. Timur Lenk tau bahwa pasukannya akan menderita kekalahan yang besar apabila berhadapan langsung dengan pasukan Nasir Mahmud Tughluq. Oleh karena itu Timur Lenk memakai strategi-strategi cemerlang berikut ini.

Mengurangi Intensitas Serangan di Medan Parit

Parit

Timur Lenk berpikir bahwa serangan dan konfrontasi langsung dengan pasukan bergajah Nasir Mahmud Tughluq sama halnya dengan mencari mati. Oleh sebab itu, Dia memerintahkan pasukannya untuk menggali parit agar intensitas serangan pasukan musuh dapat dikurangi. Dengan begitu ia akan berhadapan dengan pasukan yang lebih sedikit di satu waktu karena parit tersebut menghambat gerak pasukan Nasir Mahmud Tughluq

Melumpuhkan Pasukan Gajah Nasir Mahmud Tughluq dengan Caltrop

Caltrop

Caltrop adalah sejenis senjata yang terbuat dari 4 logam yang lancip yang dirangkai sedemikian rupa sehingga senjata ini tetap berdiri dengan 1 sisi logam yang lancip menghadap ke atas. Timur Lenk memerintahkan pasukan berkudanya untuk memprovokasi pasukan bergajah dan membuat mereka dikejar gajah-gajah tersebut. Pada waktu dikejar pasukan bergajah, pasukan berkuda tersebut menyebarkan banyak caltrop di tanah, sehingga kaki-kaki gajah tersebut akan kesakitan dan sulit untuk bergerak.

Menggunakan Pasukan Gajah Musuh untuk Menghancurkan Musuh Sendiri.

Unta dengan jerami yang akan dibakar untuk menakuti gajah

Timur Lenk tau bahwa gajah merupakan hewan yang mudah panik dan akan menjadi tak terkontrol jika sedang panik. Maka dari itu, sebelum bertempur, dia memerintahkan orang-orangnya untuk mengumpulkan jerami kering. Jerami-jerami tersebut diikatkan pada tubuh unta-unta dan juga kerbau. Lalu jerami-jerami tersebut dibakar dan unta-unta dan kerbau dengan ikatan jerami yang terbakar tersebut diarahkan dengan tongkat agar berlari menuju pasukan bergajah Nasir Mahmud Tughluq.

Unta-unta dan kerbau tersebut berlari dengan panik karena ada ikatan jerami yang terbakar di tubuhnya, lalu menuju ke barisan pasukan gajah musuh. Gajah-gajah musuh yang mudah panik karena api dan asap dari jerami tersebut akhirnya berlari berbalik arah dan malah menyerang pasukan Nasir Mahmud Tughluq di belakangnya. Koordinasi musuh pun jadi terganggu dan setelah itu pasukan Timur Lenk dengan mudahnya mengalahkan pasukan Nasir Mahmud Tughluq.

Pertempuran tersebut hanya berlangsung sebentar. Setelah itu, hanya dalam waktu sehari Timur Lenk berhasil menguasai Delhi berkat ide-ide cemerlang miliknya. Timur Lenk lalu menjarah kota tersebut dan membantai pasukan Nasir Mahmud tughluq. Semenjak saat itu, dikabarkan bahwa tengkorak-tengkorak orang India merupakan hal yang lumrah di jumpai di Kota Delhi. Benar-benar pemimpin yang jenius, tapi juga kejam.

Exit mobile version