kabut asap 1997

“Blunder” Petani Indonesia pada Kasus Kabut Asap 1997

Kasus kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap pada tahun 1997 adalah kasus skala besar yang tersebar di asia tenggara. Total kerugian ditaksir $9 miliar USD atau sekitar Rp 135 triliun rupiah (kurs sekarang). Kabut asap 1997.

Blunder Petani di Zaman Soeharto

Hal yang mendasari terjadinya kabut asap pada tahun tersebut adalah karena teknik tebas-dan-bakar oleh para petani Indonesia karena dianggap efektif dan harganya murah untuk membebaskan lahan agrikultural.

Pada saat musim kering, material mudah terbakar bisa saja terkena percikan yang menyebabkan nyala api. Pada kasus tahun 1997 siklus dimana suhu permukaan air langut lebih hangat dan terjadi di Samudra Pasifik tropis tengah dan timur.

Mencari lahan subur dengan membakar hutan

Kabut tebal yang menyelimuti Indonesia juga tersebar ke berbagai negara lainnya seperti Singapura, Malaysia, Brunie, Filipina, dan Thailand. Praktik yang dilakukan petani “tebas dan bakar” kemudian dilarang oleh Presiden Soeharto pada 10 September 1997.

Api sudah menjadi ramuan tradisi manusia untuk membersihkan lahan demi menciptakan tanah subur agar bisa ditanami tumbuhan (kebutuhan produksi agrikultural), terutama teknik pembakaran sering terjadi di Indonesia.

Pada skala yang lebih besar, bukan hanya petani sebagai ‘pelaku’ melainkan ‘perusahaan’ yang ingin membakar lahan demi meraup keuntungan dari tanaman minyak sawit dan produksi kayu. Dalam jurnal ilmiah disebutkan bahwa area total yang dibakar mencapai 3 juta hektar (ha).

Hingga sekarang perdebatan mengenai teknik tebas dan bakar masih menjadi topik hangat di kalangan para ilmuwan dan tentunya petani, karena di sisi lain terdapat positif dan negatifnya.

Apakah memang diperlukan untuk membuka lahan pertanian dalam skala yang lebih besar menggunakan teknik hash and slash? Hal ini tentu menuai banyaknya tanggapan negatif.

Karena diversifikasi hutan sudah terlalu luas dan tidak bisa generalisasi antara satu tipe dengan yang lainnya. Bahkan, dengan kondisi sekarang, ada yang memang harus diberikan perhatian lebih agar tidak memicu kebakaran.

Misalnya saja pada kasus kebakaran hutan 2020 yang ada di Australia sudah mengambil lebih dari 20 juta hektar hutan. Penyebab utamanya bukan karena petani, tetapi memang kemarau yang berkepanjangan dan kondisi yang terlalu panas.

Kasus kabut asap 1997 tentu membuat kita belajar mengenai banyak hal, pertama memang kondisi bumi dan alamnya yang berubah. Petani Indonesia dikenal dengan “malas” karena tidak mau menggunakan cara yang manual.

Bukan tidak salah untuk menggunakan teknik tebas dan bakar, tetapi kondisi iklim di Indonesia memang sangat tidak memungkinkan, kecuali para petani itu “tinggal” di belahan bumi utara (northern hemisphere).

Sudah menjadi hal yang tidak bisa dihindari dimana kita semua dapat melihat bahwa suatu kerusakan lingkungan yang disebabkan manusia karena ulah antropogenik. Hal ini seperti sudah tertuang dalam masa kesejarahan dan tertulis, manusia memang serakah dan suka membabi buta.

Sumber: Publikasi Ilmiah 1998, World Agro Forestry.

Stellarix
Vi Veri Universum Vivus Vici