Rangkuman Materi SB Seni Budaya Kelas 12

Rangkuman materi untuk pelajaran seni budaya untuk kelas 12 tentunya harus dikuasai. Guna memahami teori-teori yang telah ada. Orang-orang pada saat mempelajari pelajaran tersebut pasti akan lebih memahami. Apabila terdapat poin-poin tertentu agar dapat menunjang suatu proses berpikir menjadi lebih sederhana dan dapat diterima dengan baik tanpa berpikir keras.

Pada dasarnya rangkuman materi ini memberikan pemahaman yang sangat ringan untuk murid-murid. Apalagi yang sudah berada di kelas 12 SMA, SMK, maupun MA pembelajaran yang lengkap tersebut meliputi materi-materi tentang apresiasi dari karya seni rupa yang yang memiliki dua dimensi. Baik itu dari jenis dan juga medium dari karya tersebut. Selain itu juga, terdapat karya seni rupa yang tiga dimensi.

Jika berbicara tentang seni budaya tentunya rangkuman materinya tidak akan luput dari teknik dari musik kreasi. Hal itu merupakan suatu tindakan artistik yang membuat segala sesuatunya menjadi indah dengan menerapkan prosedur musik kreasi yang sangat baik. Selain itu juga, akan diterapkan analisis seni musik untuk memperjelas konsep dan juga makna dari musik tersebut. Sehingga akan dipahami simbol-simbol musik dan juga nilai dari suatu karya seni pada musik.

Pada pembelajaran yang satu ini juga akan diterapkan manajemen dari pergelaran tari yang memiliki prinsip-prinsip tertentu maupun juga pengertian, serta fungsi. Untuk suatu pembentukan dari panitia pergelaran tari hal itu tentunya akan mempermudah dalam pembuatan karya seni tersebut. Tentunya juga akan ada poin poin dari konsep dalam pergerakan tari dan juga beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam teater. Supaya menciptakan konsep dari karya seni yang luar biasa.

Para murid juga akan disuguhkan Bagaimana cara menyusun dalam suatu naskah drama dan juga menganalisisnya sehingga mengetahui makna dari apa yang telah dilakukan. Begitu pula dengan teater dari makna, simbol, maupun fungsi serta jenisnya dapat dipahami secara lebih komprehensif.

BAB 1: Apresiasi Karya Seni Rupa Dua Dimensi

A. Ragam Jenis Karya Seni Rupa Dua Dimensi

Berdasarkan bahannya, kita mengenal karya seni kriya kulit, kriya logam, kriya kayu, dan sebagainya. Adapun pengkategorian berdasarkan tekniknya, kita mengenal jenis karya seni batik, seni ukir, seni pahat, kriya anyam, dan sebagainya. Pengkategorian jenis karya seni rupa berdasarkan waktu perkembangannya, kita dapat mengelompokkan ke dalam karya seni rupa pra sejarah, tradisional, klasik, modern, pos modern, kontemporer, dan sebagainya. Pengkategorian berdasarkan fungsi kita mengenal karya seni rupa terapan dan seni rupa murni untuk membedakan kegunaan praktis dari karya seni rupa tersebut. 

B. Nilai Estetis Karya Seni Rupa Dua Dimensi

Nilai estetis, identik dengan keindahan dan keunikan sebuah karya seni rupa. Nilai estetis dapat juga bersifat subjektif sesuai selera orang yang melihatnya. Sebuah karya seni rupa menjadi indah dan unik karena kemampuan perupanya memilih dan memvisualisaikan objek pada bidang garapannya melalui pengolahan unsur-unsur rupa. 

C. Medium Berkarya Seni Rupa Dua Dimensi

Perwujudan sebuah karya seni rupa sangat dipengaruhi medium yang digunakan dalam proses pembuatan karya tersebut. Medium berasal dari kata “media” yang berarti perantara. Istilah medium biasanya digunakan untuk menyebut berbagai hal yang berhubungan dengan bahan (termasuk alat dan teknik) yang dipakai dalam berkarya seni (Susanto, 2011). 

Setiap jenis karya seni rupa medium (alat, bahan, dan teknik) yang khas dalam proses perwujudannya. Demikian pula dalam berkarya seni rupa dua dimensi karena kekhasannya inilah maka ada karya seni rupa dua dimensi yang dinamai sesuai dengan bahan atau teknik pembuatannya.

D. Berkarya Seni Rupa Dua Dimensi

Berkarya seni rupa dua dimensi adalah kegiatan (proses) menggunakan alat dan bahan tertentu melalui keterampilan teknik berkarya seni rupa untuk memvisualisasikan gagasan, pikiran, dan atau perasaan seorang perupa pada bidang dua dimensi.

E. Rangkuman

Karya seni rupa dikategorikan berdasarkan medium (bahan, alat, dan teknik), waktu, fungsi, serta tujuan pembuatannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi perkembangan pengategorian karya seni rupa ini. Kreativitas seorang perupa mencari berbagai kemungkinan penggunaan medium berkarya seni rupa menyebabkan jenis karya seni rupa semakin beragam jenisnya.

BAB 2: Apresiasi Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

A. Jenis, Tema dan Fungsi Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

Seperti karya seni rupa dua dimensi, berdasarkan fungsinya, karya seni rupa tiga dimensi juga dibedakan menjadi karya yang memiliki fungsi pakai (seni rupa terapan – applied art) dan karya seni rupa yang hanya memiliki fungsi ekspresi saja (seni rupa murni – pure art). Karya seni rupa tiga dimensi memiliki unsur-unsur rupa seperti warna, garis, bidang, dan bentuk. Unsur-unsur rupa itu digunakan selain untuk memperindah bentuknya, unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi ini dapat saja memiliki makna simbolis.

B. Nilai Estetis Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa dapat bersifat objektif dan subjektif. Nilai estetis bersifat objektif jika memandang keindahan karya seni rupa berada pada wujud karya seni itu sendiri dan tampak secara kasat mata.
Berbeda halnya dengan nilai estetis yang bersifat subjektif, keindahan tidak hanya pada unsur-unsur fi sik yang ditangkap oleh mata secara visual, tetapi ditentukan oleh selera orang yang melihatnya. Sebagai contoh ketika kamu melihat sebuah karya seni rupa, kamu mungkin tertarik pada apa yang ditampilkan dalam karya tersebut dan merasa senang untuk terus melihatnya bahkan ingin memilikinya, tetapi teman kamu justru kurang tertarik pada karya tersebut dan lebih tertarik pada karya lainnya. Perbedaan inilah yang menunjukkan bahwa nilai estetis sebuah karya seni rupa dapat bersifat subjektif.

C. Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi

Salah satu karya seni rupa tiga dimensi adalah patung. Karya seni patung memiliki berbagai ragam dan jenis yang tersusun dari berbagai medium pula. Cobalah membuat karya seni patung bergaya abstrak. Periksa kembali materi pembelajaran seni rupa di kelas X atau XI, bandingkan bentuk karya seni patung yang bergaya abstrak dan yang bergaya realis.

D. Rangkuman

Karya seni rupa tiga dimensi beraneka jenis dan ragamnya. Karya seni rupa tiga dimensi dapat dikelompokkan berdasarkan bahan, teknik pembuatan, gaya perwujudan, tema, fungsi, dan sebagainya. Berkarya seni rupa tiga dimensi umumnya didahului dengan mencari dan mengembangkan ide atau gagasan, membuat rancangan berupa sketsa untuk menentukan bentuk dan ukuran, dilanjutkan dengan memilih medium, (bahan, alat, dan teknik) yang akan digunakan.

BAB 3: Teknik Musik Kreasi

A. Konsep Seni Musik Kreasi

Mendengarkan musik adalah kegiatan yang bersifat auditif, artinya menangkap bunyi, suara, dan nada melalui indera pendengaran. Secara garis besar, jenis karya seni musik dapat dibedakan menjadi dua kelompok, baik yang tumbuh dan berkembang di tingkat internasional, nasional maupun lokal/daerah.

B. Jenis dan Teknik Musik Kreasi

Kreasi adalah ciptaan atau penciptaan dan hasil daya cipta. Kreasi musik merupakan penciptaan karya musik. Persoalan yang muncul di dalam gaya-gaya kreasi musik dan musik kreasi baru biasanya disebut dengan musik kontemporer.  Dalam konteks musik kontemporer, konsep musiknya lebih memaksimalkan bunyi dan jeda, hening atau tanpa bunyi menjadi fokus penggarapan sebuah karya musiknya (bermusik). Salah satu teknik pada penggarapan kreasi musik kontemporer adalah melalui penggarapan dengan memanfaatkan sumber dan warna bunyi yang dihasilkan dari suatu instrumen musik tertentu dengan cara memainkan yang berbeda dari biasanya.

Ada tiga kategori yang tersirat dalam tehnik berkreasi musik kontemporer, yaitu:  

  1. Menggarap musik dalam suatu gaya tradisional, mengaransir baru suatu karya musik tradisional, 
  2. Menggarap kreasi musik baru bersifat kekinian. 
  3. Kriteria musik kontemporer adalah ketidakbiasaan atau suatu bayangan kebebasan sepenuhnya.

C. Prosedur Musik Kreasi

Apabila kita akan membuat sebuah karya musik kreasi ada beberapa prosedur ataupun langkah-langkah dasar yang harus diperhatihan oleh komposer (pencipta musik kreasi) yaitu:  

  1. Proses berkreasi dalam penciptaan suatu karya musik, yang terpenting harus diawali dari minat dan keinginan kuat untuk membuat suatu karya.
  2. Menstimulus diri untuk dapat memunculkan ide dan gagasan dalam berkreasi dan mendapatkan masalah yang akan digarap. 
  3. Langkah berikutnya adalah kegiatan berkreasi musik yang menjadikan pilihan komposer yang perlu dilakukan.

Dalam prosedur berikutnya yang mendasari kegiatan dalam berkreasi musik adalah mempelajari konsep kreasi.

Fungsi dari alat musik itu dapat kita golongkan sebagai berikut.

  1. Fungsi Melodi
  2. Fungsi Harmoni
  3. Fungsi Ritme/Ritmis

D. Rangkuman

Musik yang bersifat auditif merupakan seni pengungkapan gagasan melalui bunyi, yang unsur dasarnya berupa irama, melodi, dan harmoni, dengan unsur pendukung berupa bentuk ekspresi yang mengungkapkan gagasan, sifat, tempo, dinamik, timbre, atau warna bunyi. Seni suara yang sifatnya auditif adalah bentuk-bentuk panyampaian isi hati manusia melalui suara yang indah. Suara dapat dibedakan atas desah dan nada.

BAB 4: Analisis Seni Musik

A. Konsep dan Makna Proses Kreasi Musik

             Kreasi merupakan kegiatan yang bermuara pada lahirnya karya seni, dimana proses kreasi bertujuan menghadirkan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Salah satunya sebuah karya seni dapat berwujud musik. Munandar (2002:9), menyatakan bahwa kreativitas sebagai dimensi fungsi kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari intelegensi tetapi berpikir divergen atau kreatif. Kreativitas dalam pengembangannya sangat terkait dengan aspek empat P, yaitu: pribadi, pendorong, proses, dan produk. Kreativitas akan muncul dari hasil adanya interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.

            Kita tahu bahwa fenomenalogi adanya produk karya musik, baik musik tradisi, klasik, modern, maupun kontemporer di dalamnya tidak dapat terlepas dari sebuah kreasi penataan unsur-unsur musik beserta elemen-elemennya. Musik tercipta dan dibangun oleh keterpaduan substansi unsur-unsur irama, melodi, harmoni, bentuk/struktur yang dikemas oleh kualitas musik, yaitu unsur ekspresi yang meliputi tempo, dinamika, timbre, dan kekuatan volume atau intensitas suara. 

B. Simbol Musik

            Seni musik merupakan simbolisasi pencitraan dari unsur-unsur musik dengan substansi dasarnya suara dan nada atau notasi. Notasi sebagai salah satu elemen musik merupakan simbol musik utama yang berupa nada-nada. Melalui notasi kita dapat menunjukkan secara tepat tinggi rendahnya nada. Unsur-unsur musik itu terdiri dari beberapa kelompok yang secara bersamaan membentuk sebuah lagu atau komposisi musik. 

Banyak istilah dan simbol musik yang digunakan untuk sebutan nada. Misalnya:

  1. nada tonal, yaitu nada-nada diatonis untuk musik barat; 
  2. nada modal, yaitu nada-nada pentatonis untuk musik daerah. 

Untuk menulis not atau notasi balok diperlukan garis-garis paranada, karena notasi balok biasanya tersimpan pada paranada atau balok not yang terdiri atas lima garis sejajar.

Dalam praktiknya aturan penulisan notasi dalam garis para nada adalah:

  1. Not-not yang tersimpan di atas garis ketiga arah tiang not digambar ke atas.
  2. Not-not yang berada di bawah garis ketiga arah tiang not digambar ke bawah.
  3. Not-not yang terletak pada garis ketiga arah tiang not, boleh ke atas atau ke bawah.
  4. Peletakan bendera selalu ke arah kanan.
  5. Notasi yang mempergunakan suara dua, gambar tiang not mengarah ke atas untuk suara pertama, sedangkan untuk suara kedua mengarah ke bawah.

Secara lebih jelas untuk penulisan not dan penyimpanannya pada garis paranada, dapat dilihat salah satu model penulisan notasi yang tersimpan pada garis paranada.

  1. Pola Irama

Pola irama ialah bentuk susunan tertentu panjang pendek bunyi dan diam. Setiap bentuk lagu mempunyai pola-pola irama. 

  1. Pola Melodi

Melodi adalah susunan rangkaian nada (bunyi dengan getaran teratur) yang terdengar berurutan berirama, dan mengungkapkan suatu gagasan.

  1. Harmoni

Harmoni atau panduan nada ialah bunyi nyanyian atau permainan musik yang menggunakan dua nada atau lebih, yang berbeda tinggi nadanya dan kita dengar serentak. Dasar harmoni ini adalah trinada atau akor. Akor merupakan salah satu elemen musik sedangkan elemen lainnya seperti kaden dan interval.

  1. Bentuk dan Struktur Lagu

Bentuk dan struktur lagu ialah susunan serta hubungan antara unsur-unsur musik dalam suatu lagu sehingga menghasilkan suatu komposisi atau lagu yang bermakna.

  1. Ekspresi

Ekspresi dalam musik ialah ungkapan pikiran dan perasaan yang mencakup semua nuansa seperti tempo, dinamik, dan warna nada. 

C. Nilai Estetis Seni Musik

Secara konseptual Lomax (1957), menyatakan dalam Budiwati (2001), bahwa musik lebih dititikberatkan pada sesuatu kegiatan yang bernilai, yaitu musik sebagai refl eksi dari nilai dan perilaku dalam budaya sebagai satu kesatuan dalam mengisi fungsi sosial. Nilai estetis dalam seni merupakan untaian mutiara yang artistik, dapat mendekatkan manusia pada nilai-nilai keindahan. Keindahan yang identik dengan estetis, dapat terlukiskan dalam bentuk karya seni musik. Sosialisasi nilai estetis dalam seni musik vokal dapat tersirat lewat bentuk sastra lagu atau lirik lagu dan untaian melodi nada-nada yang tertata secara khusus, dan memiliki sifat kesederhanaan, keagungan, dan kekompleksitasannya.

BAB 5: Manajemen Pergelaran Tari

A. Pengertian Manajemen Pergelaran Tari

Pentingnya memahami masalah manajamen dalam pergelaran tari sama pentingnya ketika seniman mempersiapkan karya seni tari yang berkualitas. Karena dalam persoalan manajemen terdapat beberapa tahapan yang mampu membantu seniman untuk mempublikasikan karyanya pada apresiator. Selain memiliki nilai dan fungsi komersial, ada pula kegiatan manajemen pergelaran tari dilakukan seniman tari untuk mengefi siensikan berbagai persiapan agar kegiatan pergelaran tari dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

B. Prinsip-Prinsip Manajemen Pergelaran Tari

Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, perlu dipahami terlebih dahulu beberapa prinsip-prinsip manajemen yang pada akhirnya akan diterapkan dalam kegiatan pergelaran tari. 

Berikut prinsip-prinsip manajemen.

  1. Prinsip Pembagian Kerja
  2. Prinsip Wewenang dan Tanggung Jawab
  3. Prinsip Tertib dan Disiplin
  4. Prinsip Kesatuan Komando
  5. Prinsip Keadilan dan Kejujuran

C. Fungsi Manajemen Pergelaran Tari

Beberapa sumber menyebutkan tentang fungsi manajemen dalam sebuah organisasi atau kegiatan termasuk di antaranya untuk kegiatan pergelaran tari. Fungsi manajemen tersebut meliputi sebagai berikut. 

  1. Fungsi Perencanaan (Planning)
  2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing) 
  3. Fungsi Pergerakan (Actuating) 
  4. Fungsi Pengawasan (Controlling)

D. Pembentukan Panitia Pergelaran Tari

Selain penari dan pemain musik terdapat peran lain yang sama pentingnya dengan posisi penari dan pemain musik. Peran tersebut adalah kepanitiaan pergelaran. Bagaimanapun konsep pergelaran dibuat, unsur kepanitiaan ini penting dimunculkan. Hal ini dikarenakan peran kepanitiaan ini memiliki andil sangat besar dalam menyukseskan kegiatan pertunjukan tari yang diselenggarakan. 

Tugas dan tanggung jawab kepanitiaan pergelaran ini membantu mengatur setiap tahapan kegiatan pergelaran mulai dari tahapan awal, proses latihan, publikasi dan pemasaran pertunjukan, sampai pada pengaturan jalannya pertunjukan agar berjalan dengan sukses.

struktur kepanitiaan yang perlu disusun:

a. Tim Produksi

  1. Pimpinan Produksi 
  2. Sekretaris Produksi 
  3. Bendahara 
  4. Seksi Dokumentasi 
  5. Seksi Publikasi 
  6. Seksi Pendanaan 
  7. Tiketing

b. House Manajer

  1. Keamanan 
  2. Akomodasi 
  3. Konsumsi 
  4. Transportasi 
  5. Seksi Gedung

c. Tim Artistik

  1. Sutradara/Koreografer 
  2. PimpinanArtistik/Art Director 
  3. Stage Manajer 
  4. Penata Panggung/Scenery 
  5. Penata Cahaya 
  6. Penata Rias dan Busana 
  7. Penata Suara 
  8. Penata Musik/Sound

BAB 6: Konsep Garap Pergelaran Tari

A. Proses Garap Gerak Tari Kreasi

Pengertian sederhana dari proses eksplorasi adalah proses penjajakan dan pencarian motif-motif gerak melalui berbagai cara yang dilakukan pada saat melakukan proses garap gerak tari.  Pada langkah eksplorasi biasanya terbentuk karena adanya rangsang awal yang ditangkap oleh pancaindra. Melalui rangsang inilah, praktik ide dan gagasan mengembangkan gerak dapat dilakukan dan akan mewujudkan proses kreatif gerak yang cenderung orisinal dari karya tari yang dibuat secara sederhana. 

Beberapa stimulus tersebut di antaranya berupa rangsang auditif, visual, gagasan, dan rangsang kinestetik. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut.

  1. Rangsang Dengar (Auditif)

Rangsang auditif adalah salah satu tahapan mengembangkan gagasan gerak yang diilhami oleh suara atau bunyi suatu benda atau perbuatan, seperti suara instrumen musik, suara manusia, suara alam atau lingkungan sering kali menarik dan menjadi rangsang dinamis tari.

  1. Rangsang Visual

Rangsang visual muncul karena pancaindra yang berupa mata menangkap berbagai hal yang menarik untuk diungkapkan dalam bentuk gerak tari. 

  1. Rangsang Kinestetik

Rangsang kinestetik merupakan tahapan pengembangan gerak tari berdasarkan kesadaran pengolahan potensi tubuh kita. 

  1. Rangsang Gagasan

Rangsang gagasan adalah rangsang yang sering kali digunakan penata tari dalam membuat karyanya.

B. Stilisasi dan Seleksi Gerak

Untuk mendapatkan bentuk baru dari pengembangan gerak yang diharapkan memerlukan kecermatan dan uji coba yang terus-menerus, berdasarkan kreativitas dari gerak tubuh yang terkecil sampai pada totalitas gerak tubuh sepenuhnya. Setelah proses pembentukan gerak, selanjutnya dilakukan pemilihan gerak yang sesuai dengan ide. tahapan selanjutnya adalah proses penghalusan dan pemilihan gerak sesuai dengan kebutuhan penyajian garapan tari yang diinginkan. Tahapan akhir dari proses eksplorasi adalah tahapan penggabungan dengan unsur-unsur pendukung lainnya, baik dengan musik iringan tari, penggunaan properti tari, atau dengan penggunaan artistik lainnya, termasuk penggunaan busana dan asesoris tari.

C. Improvisasi Gerak dalam Tari

Adegan yang tidak disengaja oleh penari dapat dikategorikan sebagai gerak improvisasi. Akan tetapi, pada pelaksanaannya juga gerak improvisasi dalam tari dapat dilakukan secara sengaja sesuai dengan kebutuhan konsep garap. Inti dari gerak impovisasi adalah bentuk bentuk gerak yang dilakukan penari yang pada setiap saat dapat dilakukan berbeda, tetapi masih disesuaikan dengan maksud pengadeganan dari gerak itu sendiri. 

D. Konsep Tata Pentas

Perlu kamu pahami bahwa unsur tata pentas dalam suatu penyajian tari baik karya tari bertema dan nontematik sangat penting dimunculkan. Oleh karena itu, keberadaannya memberikan dimensi ruang pertunjukan yang mampu mencerdaskan para penonton. konsep tata pentas dalam pertunjukan tari akan terkait dengan masalah konsep tata panggung, tata lampu, dan tata artistik pertunjukan atau dekorasi panggung. Pada umumnya jenis panggung yang sering digunakan dalam pertunjukan tari terbagi menjadi beberapa jenis di antaranya ada jenis panggung arena, prosenium, dan jenis panggung campuran. 

Jenis panggung arena adalah jenis panggung terbuka yang tidak terdapat batasan yang jelas antara garis pemain dan penonton. Selanjutnya penjelasan unsur pendukung lainnya, yakni tata lampu dan dekorasi pertunjukan. Kedua unsur pendukung ini penting untuk diperhatikan juga, karena memiliki peran dalam memperkuat dari pengadegan penyajian tarian.

BAB 7: Teater

A. Konsep Karya Cipta Teater 

Nilai karya teater dan karya seni lainnya terletak pada keunikannya. Sebuah karya seni Teater diproduksi untuk disajikan kepada masyarakat (penonton). Antara karya yang diciptakan oleh penggarap dengan penonton, terselip sebuah tujuan, yaitu komunikasi. Apa yang dikomunikasikan adalah ide-ide atau gagasan-gagasan seni.

B. Teknik Pengungkapan Gagasan

Keunikan sebuah gagasan seni bisa kita tanggapi melalui teknik pengungkapan ide-ide dalam bentuk media ungkap seni. Teknik pengungkapan gagasan-gagasan dalam teater banyak tertumpu pada pemain. Pemain adalah unsur pokok dalam teater, sedangkan yang lainnya adalah unsur pendukung untuk memperkuat permainan. 

Hal lainnya yang dibutuhkan bagi calon pemeran adalah melakukan latihan yang meliputi:

  1. Olah tubuh, yaitu melatih anggota badan agar mencapai kelenturan. 
  2. Olah vokal (olah suara).
  3. Olah sukma, yaitu melatih daya konsentrasi agar terbiasa dalam memusatkan pikiran terhadap sesuatu.

Dalam memerankan tokoh-tokoh cerita harus dilakukan secara wajar. Tidak berlebihan (over acting) baik dialog maupun gerak atau aksi. Di bawah ini ada macam-macam gerak yang dilakukan pemain dalam pertunjukan drama.

  1. Movement : perpindahan tempat pemain dari satu tempat ke tempat lain.
  2. Gestures : gerakan badan dengan anggotanya, ke kiri, ke kanan, berputar ke belakang dengan salah satu kaki sebagai porosnya.
  3. Business : gerakan-gerakan kecil yang dilakukan oleh tangan, jari, dan kepala.
  4. Gait : gerakan besar misalnya cara berjalan.
  5. Detail : gerakan-gerakan yang lebih kecil, misalnya: kedip mata, menarik nafas, mengernyitkan alis, dan sebagainya.

C. Prosedur Berkarya Teater

Selain konsep gagasan dan teknik pengungkapan, dalam berkarya teater, dibutuhkan prosedur yang benar menurut kekhasan karya cipta teater. Prosedur yang dimaksud adalah:

  1. tujuan penciptaan,
  2. media pengungkapan,
  3. tata kelola proses produksi teater.

Tujuan penciptaan teater adalah mengomunikasikan gagasan kehidupan melalui pertunjukan teater.  Media pengungkapannya terdiri atas bahasa verbal dan bahasa nonverbal.

D. Menyusun Naskah Drama

Naskah atau Lakon dibuat oleh seorang penulis naskah (sastrawan). Dia adalah seniman utama, karena dengan karya sastranya bisa mengilhami para insan teater untuk mewujudkan sebuah karya pertunjukan. Para sastrawan membuat naskah atau lakon drama dengan maksud untuk dipentaskan. 

Di dalam naskah terdapat gagasangagasan pengarang tentang pengalaman batinnya yang ingin disampaikan kepada penonton. Gagasan atau bisa juga disebut ide pengarang apabila dirinci terdiri dari: satuan-satuan kecil, yaitu nilai-nilai kehidupan yang dialami pengarang yang ingin dikomunikasikan kepada masyarakat. 

Di dalam naskah ada tokoh-tokoh cerita atau peran-peran yang menghidupkan naskah itu sendiri. Tokoh-tokoh cerita tersebut bila diklasifi kasi menjadi: 

  1. peran utama yang disebut protagonis,
  2. peran lawan yaitu antagonis, 
  3. peran ketiga yang mendukung protagonis atau antagonis yang disebut tritagonis, dan 
  4. peran pembantu. 

E. Analisis Naskah Drama

  1. Pertama yang harus kamu perhatikan adalah struktur cerita. Adegan mana yang akan disimpan di bagian permulaan serta adegan mana yang akan disimpan pada bagian akhir.
  2. Kedua adalah karakter, yaitu perwatakan yang terdapat dalam tokohtokoh cerita yang kamu buat. Apakah akan menghadirkan tokoh jahat dengan perangai yang buruk atau sebaliknya.
  3. Ketiga adalah diksi (bahasa). Yang dimaksud dengan diksi di sini adalah bahasa verbal atau bahasa kata-kata yang diucapkan oleh pemain sebagai salah satu bahasa ungkap dalam drama. Apakah kamu akan membuat naskah dengan bahasa puisi? Atau dengan bahasa keseharian seperti yang kamu gunakan sehari-hari.
  4. Keempat, yang harus diperhatikan dalam menyusun naskah drama adalah ide atau gagasan. Gagasan apa yang ingin disampaikan kepada penonton?” 
  5. Kelima, yang harus diperhatikan dalam naskah drama adalah perlengkapan. Ada jenis perlengkapan dalam pertunjukan drama, yaitu perlengkapan yang digunakan oleh para pemain (aktor dan aktris) dan perlengkapan panggung yang biasanya disimpan di atas panggung sebagai pelengkap dalam pertunjukan drama.

BAB 8: Teater

A.  Makna Simbol dalam Teater

Teater adalah seni pertunjukan yang sarat dengan simbol-simbol. Peristiwa panggung bukanlah peristiwa yang sebenarnya, melainkan peristiwa simbolis yang diangkat dari pengalaman kehidupan manusia. Penonton bisa menikmati pertunjukan teater melalui proses penafsiran makna-makna dari simbol-simbol yang dihadirkan di atas pentas. Simbol itu hanyalah sarana atau media untuk menyampaikan makna pesan seniman kepada penonton. Menonton teater harus senantiasa berpikir untuk bisa menafsirkan makna pesan yang berada di balik simbol. 

B. Jenis Simbol dalam Teater

Jenis simbol dalam teater pada dasarnya hanya ada tiga, yaitu simbol visual, simbol verbal, dan simbol auditif. Simbol visual adalah simbol yang nampak dalam penglihatan penonton, meliputi seluruh wujud bentuk dan warna termasuk tubuh para pemain.Simbol verbal adalah simbol yang diungkapkan dengan kata-kata, baik oleh para pemain, narator, maupun dalang. Sedangkan simbol auditif adalah simbol yang berbunyi atau simbol yang ditimbulkan oleh bunyi. 

C. Fungsi Simbol dalam Komunikasi

Simbol-simbol yang digunakan dalam pertunjukan teater berfungsi untuk memperkuat komunikasi ide-ide yang akan disampaikan kepada penonton. Bahasa verbal atau bahasa dalam bentuk kata kata adalah sarana simbolis dalam proses komunikasi. Bahasa nonverbal sangat membantu proses komunikasi ketika bahasa kata-kata terbatas oleh perbendaharaan dan struktur kalimat yang diucapkan. 

Mitra komunikasi akan paham tentang apa yang dimaksudkan melalui gerakan anggota tubuh ketika berkomunikasi. Bahkan diam pun dalam teater adalah komunikasi. Duduk termenung di sudut ruangan tanpa kata-kata adalah komunikasi, karena orang lain akan menafsirkan tentang apa dan mengapa merenung.

D. Ragam Teknik Ungkapan Simbolik

Teknik pengungkapan gagasan dalam teater sangat beragam. Media ungkap yang digunakan biasanya tidak hanya satu media melainkan multimedia. Media tersebut berupa bahasa ungkap sebagai sarana komunikasi yang meliputi audio dan visual. Bahasa kata-kata yang diucapkan para pemain dan musik termasuk kategori audio, sedangkan bahasa tubuh, bahasa warna, dan bentuk termasuk kategori visual.

E. Ungkapan Simbolik dalam Kreasi Naskah Drama

Seorang pengarang akan menuangkan ide-ide ceritanya melalui kata-kata yang terhimpun dalam sebuah teks naskah drama. Teks naskah drama yang memuat kata-kata itu adalah simbol-simbol verbal sebagai sarana untuk mengomunikasikan gagasan cerita di atas. 

F. Ungkapan Simbolik dalam Penampilan Teater

Penampilan teater pada dasarnya merupakan proses pemanggungan sebuah lakon. Naskah drama yang berupa teks berisi kata-kata karya seorang pengarang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa pentas oleh para seniman penggarap maka itulah pertunjukan teater. Seorang penggarap teater akan selalu mencari padanan sarana simbol yang digunakan dalam teks naskah ke dalam versi pertunjukan. 

Seseorang yang memiliki banyak pengalaman dalam proses garapan dan menonton karya orang lain, sangat memungkinkan untuk menghadirkan ide-ide yang orisinal, bukan tiruan dari karya orang lain. Orisinalitas karya adalah keunikan seniman penggarap yang membedakan dirinya dengan seniman lainnya.