Rangkuman Materi SB Seni Budaya Lengkap Kelas 10 SMA/SMK/MA (Bab 7-12)

Rangkuman materi seni budaya kelas 10 untuk SMA SMK dan ma juga mencakup tentang seni peran maupun juga tentang jenis-jenis dari teater. Untuk itu perlu pemahaman yang sangat rinci karena hal itu berkaitan dengan akting. Pada saat melakukan peran di bidang seni teater tentunya tidak hanya memerlukan improvisasi. Akan tetapi, juga memerlukan teori yang sangat mendorong seseorang untuk bisa menjalankan perannya agar lebih menarik dan terlihat lebih nyata.

Materi seni budaya juga tidak hanya terbatas tentang dunia pemeranan. Akan tetapi, juga seni rupa yang memang telah lama ada sehingga untuk orang-orang yang menyukai seni tentunya akan memiliki kecenderungan dalam memilih beberapa cabang dari kesenian tersebut. Hal itu termasuklah dalam seni rupa.

Teori-teori yang mengantarkan seseorang memahami seni rupa akan menghasilkan suatu karya maupun inovasi terbaru. Sehingga rangkuman materi tentang seni budaya yang mencakup hal tersebut sangatlah diperlukan. Guna melengkapi setiap praktek yang akan dijalankan maupun juga teknik-teknik serta hal-hal yang pernah ada di masa terdahulu sehingga bisa dijadikan pembelajaran.

Seni budaya tentu tidak hanya terbatas pada karya karya yang memiliki nilai artistik tertentu, tetapi juga bagaimana caranya untuk melakukan sebuah protes maupun kritik dengan tidak menyinggung pihak manapun akan tetapi hal itu dapat membangun agar seni tertentu dapat berkembang menjadi lebih baik. Rangkuman dari materi yang lengkap ini akan memberikan gambaran secara lebih jelas Bagaimana caranya untuk mengkritik musik musik untuk bisa berkembang menjadi lebih baik.

Rangkuman materi tentang seni budaya apalagi soal kritik tentunya hal itu menganut pada nilai-nilai yang memang terkandung tentang bagaimana cara serta teknis dan juga hal yang tidak boleh dilakukan pada saat melakukan protes tersebut. Sehingga hal itu bisa menjadi suatu seni dan juga dapat menjadi sesuatu yang lebih baik lagi.

BAB 7: Pemeranan

Pemeranan merupakan unsur utama dalam seni, pemeranan adalah ilmu dan seni dalam membawakan suatu peran atau tokoh dengan keterampilan dalam melakukan, bertindak, berbuat seolah – olah menjadi karakter watak atau tokoh sesuai kebutuhan pentas secara tepat, logis, estetis, etis dan mempesona.

Unsur pemeranan terdiri dari; ekspresi tubuh, ekspresi wajah, ekspresi suara, ekspresi irama permainan seni peran, penghayatan peran, kostum, dan peralatan pemeran.

Unsur seni peran:

  1. Cerita atau naskah dibawakan harus mengandung konflik
  2. Adanya kerjasama yang baik antar pemain dan sutradara dalam membangun atmosfir pertunjukan yang baik.
  3. menghindari terjadinya miss casting agar tidak terjadi over acting atau under acting 
  4. Berani mencoba dan gagal
  5. Berwawasan dan mampu bergaul
  6. Percaya diri dan menyadari potensi diri.

Jenis Teater:

  1. Teater Tradisional; tidak mempunyai naskah baku/tertulis, pemerannya bersifat spontan tanpa latihan, pertunjukan lebih mengutamakan nilai yang terkandung daripada estetikanya, pentasnya sederhana, pertunjukan dibangun penuh dengan keakraban.
  2. Teater Modern; mempunyai naskah tertulis dalam bentuk naskah teater panggung, pemerannya direncanakan dengan matang melalui proses latihan, pertunjukan beragam berdasarkan penampilan senimannya, peralatan pentas lebih modern dan lengkap dengan artistik penunjang, pertunjukan dilakukan dengan adanya jarak estetis atau lebur menjadi satu.
  3. Sinematografi/film; mempunyai naskah tertulis dalam bentuk skenario, pertunjukan direncanakan dengan matang tanpa proses latihan dan bisa diulang sesuai kebutuhan pemeran, pertunjukan lebih beragam tergantung penampilan senimannya, peralatan pentas lebih natural sesuai kebutuhan, pertunjukan dilakukan tidak langsung karena ada jarak dengan prime kamera atau televisi.

Unsur penokohan/perwatakan terdiri dari; protagonis, antagonis, deutragonis, foil, tetragonis, confident, raisonneur, dan utility.

Tekknik dasar pemeranan terdiri dari; olah tubuh, olah suara, dan rasa atau sukma, olah ruang.

Kreativitias pemeranan dalam teater dilakukan dengan langkah – langkah; memilih dan menentukan naskah, membaca naskah, pembagian tokoh, menganalisis peran atau tokoh, mengahapal naskah, mengamati watak tokoh, mengeksplorasi pemeranan dengan dialog dan teknik pemeranan melalui latihan individu/kelompok, menyeleksi watak tokoh, menyusun watak tokoh, menggabungkan watak tokoh dengan unsur pemeranan, membentuk pemeranan, menampilkan pemeranan dengan lisan dan tulisan, memaknai pemeranan.

BAB 8: Berkarya Teater

Teater secara etimologis berasal dari bahasa Inggris “Theatre” dan bahasa Yunani “Theaomai” yang berarti dengan takjub melihat dan mendengar. Teater dalam pengertian umum adalah suatu kegiatan manusia dalam menggunakan tubuh atau benda-benda yang dapat digerakan, di mana suara, musik dan tarian sebagai media utamanya untuk mengekspresikan cita, rasa, dan karsa seni. Teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukan di depan orang banyak, Sedangkan dalam arti sempit Teater adalah Drama.

Teater merupakan karya seni pertunjukan sebagai hasil daya cipta, rasa, dan karsa yang diekspresikan melalui bahasa simbol dengan media utama adalah manusia dengan totalitas tubuhnya

Drama dalam bahasa Yunani “Dran” atau “Draomai” yang berarti beraksi, berbuat, bertindak, berlaku. Dalam istilah yang lazim Drama adalah salah satu bentuk teater yang memakai lakon dengan cara bercakap-cakap atau gerak-gerik di atas pentas yang ditunjang oleh beberapa unsur artistik pertunjukan.

BAB 9: Pameran Karya Seni Rupa

Pameran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyampaikan ide atau gagasan perupa kepada publik melalui media karya seninya.  

Tujuan pameran karya seni rupa; tujuan sosial dan kemanusiaan, tujuan komersial, dan tujuan yang berkaitan dengan pendidikan.

Manfaat pameran karya seni rupa; untuk menumbuhkan dan menambah kemampuan dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif

Fungsi pameran karya seni rupa; sebagai alat komunikasi antara seniman dengan pengamat seni.

Tahapan perencanaan penyelenggaraan pameran seni :

  1. Menentukan tujuan 
  2. Menentukan tema pameran
  3. Menyusun kepanitiaan
  4. Menentukan waktu dan tempat
  5. Menyusun agenda kegiatan
  6. Menyusun proposal kegiatan 

Persiapan pameran :

  1. Menyiapkan dan memilih karya 
  2. Menyiapkan perlegkapan pameran 

Proses penyelenggaraan pameran akan berjalan dengan lancar bila didukung perlengkapan pameran.

BAB 10: Kritik Karya Seni Rupa

Apresiasi seni, dapat diartikan sebagai memahami seluk beluk karya seni serta menjadi peka terhadap segi segi estetikanya.

Fungsi dari kegiatan apresiasi seni; meningkatkan kecintaan pada karya bangsa sendiri, berhubungan dengan kegiatan mental kita sebagai penikmatan, penilaian, empati dan hiburan.

Kritik karya seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni yang berfokus pada tujuan kritik untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni.

Jenis kritik; kritik populer, kritik jurnalistik, kritik keilmuwan, kritik pendidikan, dan kritik instrumentalistik.

Fungsi kritik karya seni rupa menjembatani persepsi dan apresiasi artistik serta estetika karya seni rupa antar pencipta, karya dan penikmat seni.

Tahapan dalam mengkritik;  mendeskripsikan kritikan, menganalisis sebelum mengkritik, menafsirkan, menilai. Menilai secara kritis dapat dilakukan dengan langkah – langkah :

  1. Mengaitkan sebanyak – banyaknya karya yang dinilai dengan karya yang sejenis.
  2. Menetapkan tujuan atau fungsi karya yang ditelaah
  3. Menetapkan sejauh mana mana karya yang ditetapkan “menyimpang” dari yang telah ada sebelumnya.
  4. Menelaah karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan segi pandang tertentu yang melatarbelakanginya.

BAB 11: Pertujukan Musik

Pertunjukan adalah sesuatu yang dipertunjukkan atau tontonan, atau juga pameran.

Teknik pertunjukan mencakup; karya musik yang dimainkan, penempatan pemain diatas panggung, aspek psikologis para pemain selaa pertunjukan, penguasaan musik dan latihan.

Hal yang diperhatikan untuk pertunjukan :

  1. Tema dalam pertunjukan musik
  2. Penempatan pemain diatas panggung
  3. Persiapan mental para pemain dalam pertunjukan

Prosedur pertunjukan musik :

  1. Menyeleksi permainan musik atau lagu-lagu dan instrumen
  2. Membuat jadwal latihan
  3. menggabungkan seluruh unsur dalam suatu kesatuan seni
  4. Merancang kostum
  5. Menentukan latar belakang dan properti yang sesuai
  6. Membuat tiket pertunjukan
  7. Membentuk panitia
  8. Memeriksa kelengkapan alat dan pendukung lainnya

BAB 12: Kritik Musik

Kritik musik dalam pertunjukan seni dapat diartikan sebagai pertimbangan baik buruk terhadap kemampuan seseorang atau kelompok dalam memproduksi musik/lagu atau karya musik dalam pertunjukan seni.

Jenis – Jenis Kritik: kritik pedagogik, kritik ilmiah, dan kritik ilmiah.

Tahap teori kritik seni: 

  1. Deskripsi, mengacu pada suatu proses pengumpulan data yang secara langsung diperoleh kritikus. 
  2. Analisis formal, mengacu pada suatu proses analisis yang dilakukan oleh siswa yang memberi kritik atau kritikus terhadap musik yang dimainkan.
  3. Interpretasi, mengacu pada suatu proses ketika kritikus memaknai musik berdasarkan pemahaman dan analisis yang telah dilakukannya dengan teliti. 
  4. Evaluasi, mengacu pada suatu proses ketika kritikus menyatakan pandangan atau kritiknya terhadap musik yang dimainkan.

Kritik musik dapat dikomunikasikan melalui tulisan ataupun lisan.