Rangkuman Materi SB Seni Budaya Lengkap Kelas 10 SMA/SMK/MA (Bab 13-16)

Rangkuman materi seni budaya untuk kelas 10 SMA, SMK, MA dan timnya juga mempelajari tentang pagelaran karya dari seni tari. Hal itu merupakan hal yang memang sudah menjadi suatu kesenangan untuk sebagian orang, karena tari merupakan seni Bagaimana menggerakkan tubuh menjadi sesuatu yang indah dan memiliki nilai artistik.

Rangkuman dari materi seni budaya ini tidak hanya mengajarkan teknik bagaimana untuk melakukan gerakan-gerakan yang menarik perhatian orang-orang pada saat menari saja. Akan tetapi, juga berkaitan dengan hal-hal mendasar dan juga tentang kritik tari yang meliputi beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para pegiat dari kesenian tersebut.

Begitu pula dengan pertunjukan teater akan dipelajari pada rangkuman materi seni budaya secara lengkap. Hal itu guna memperkokoh Bagaimana suatu seni tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik lagi dan menghasilkan inovasi dan karya-karya kreatif untuk memberikan nilai-nilai yang berarti bagi kehidupan.

Pembelajaran tentang karya seni berupa tari maupun karya teater adalah bagian dari unsur hiburan maka dari itu memang butuh teori-teori tertentu untuk membuat orang dapat tertarik agar menikmati seni seperti tari maupun juga teater tersebut. Sebab, tanpa adanya teori tentunya orang-orang tidak bisa mengembangkan inovasi baru maupun juga menemukan hal-hal menarik yang bisa untuk disuguhkan untuk para penontonnya nanti.

Teori tentang karya seni tersebut apalagi dengan rangkuman materi yang lengkap tentunya akan membuat karya seni yang akan diluncurkan selanjutnya akan lebih baik lagi. Pasalnya, telah mengetahui tentang teknik-teknik maupun juga bagaimana cara bisa menghasilkan seni yang memiliki kreativitas tinggi tanpa apa adanya kesalahan-kesalahan dan juga minim kontra di masyarakat. Maka dari itu, pahami secara lebih komprehensif tentang rangkuman materi seni budaya tersebut agar memiliki nilai dan sudah sesuai kaidah pada saat prakteknya.

BAB 13: Pergelaran Karya Seni Tari

Pergelaran karya seni tari merupakan pertunjukan tari atau penyajian yang ditujukan kepada orang lain.

Teknik dan prosedur dalam membuat pergelaran tari dilakukan dengan sistematis, untuk mencapai pergelaran yang baik sangat diperlukan strategi khusus agar penyelenggaraan pergelaran tersebut tetap dapat diminati. Salah satunya dengan membuat susunan acara yang tidak monoton.

Unsur pendukung dalam pergelaran tari; u gerak, musik iringan, tema, tata rias dan kostum, pola lantai, tempat / pentas dan lighting.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan pertunjukan tari:

  1. Pembentukan panitia
  2. Menyusun Jadwal kegiatan Menyusun jadwal kegiatan
  3. Penampilan karya seni tari kelompok maupun individu

Panitia merupakan suatu kelompok dalam mengelola pelaksanaan terhadap bentuk kegiatan. Paniatia tebagi menjadi dua:

  1. Steering Comitee ( panitia pengarah) sebagai penasehat dan pemberi petunjuk kepada kelompok bawahannya dalam menjalankan tugas.
  2. Organizing Comitee (panitia peaksana) melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan di lapangan.

BAB 14: Kritik Tari

Kritik berarti memberikan aprestasi terhadap karya seni yang dilihatnya. Orang yang mengkritik memiliki kepekaan estetis dan keterampilan mencermati karya seni lebih dari penonton biasa.

Jenis Kritik: kritik jurnalistik, kritik pedagogik, kritik populer, kritik ilmiah.

Simbol gerak tari dalam kritik tari sering diartikan bahwa tarian yang di pertunjukkan memiliki makna yang dapat ditafsirkan melalui gerakan.

Simbol dapat berupa gerak tari berdasarkan imajinasi seorang penari dan dapat berupa benda yang dijadikan property tari atau hanya bersifat hiasan.

Kritik dapat dilakukan pendekatan formalistik, yaitu untuk menentukan ekselensi karya seni adalah significant form,yakni kapasitas bentuk seni yang melahirkan emosi estetik bagi pengamat seni. Namun, pendekatan ini terbagi menjadi dua :

  1. Pendekatan Ekspresivisme, Kritik seni ekpresivisme menentukan kadar keberhasilan seni atas kemampuannya membangkitkan emosi secara efektif, intensif, dan penuh gairah.
  2. Pendekatan Instrumentalistik kritikus instrumentalis berpendapat bahwa kreasi artistik tidak terletak pada kemampuan seniman untuk mengelolah material seni ataupun pada masalah internal karya seni.

Nilai estetis dalam karya seni tari tidak hanya dilihat dari gerak tari itu sendiri melainkan dilihat dari berbagai aspek seni yang lain sebagai unsur pendukungnya.

BAB 15: Pergelaran Teater

Pergelaran Teater merupakan puncak dari sebuah proses latihan para kreator seni dan proses kreativitas seni dari seorang sutradara. 

Unsur pergelaran teater meliputi unsur; Panitia pergelaran, materi pergelaran Teater, penonton.

Penonton dalam hubungan pergelaran seni teater dibedakan dalam tiga golongan, penonton:

  1. Penonton awam adalah penonton penikmat seni dengan kecenderungan kurang atau tidak dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman seni. Dalam hal ini wawasan dan pengalaman seni Teater.
  2. Penonton tanggap, artinya penonton bersikap responsif dengan kecenderungan memiliki wawasan dan pengalaman seni, tetapi tidak ditindaklanjuti untuk mengulas terhadap apa yang pergelaran yang ditontonnya cukup untuk dipahami dan dinikmati sendiri.
  3. Penonton kritis, adalah penonton dengan bekal keilmuan dan pengalaman seni kemudian melakukan ulasan atau menulis kritik pergelaran dan dipublikasikan dalam forum ilmiah, diskusi sampai media cetak dan elektronik.

Pergelaran Teater akan terselenggara dengan baik apabila dilakukan dengan suatu proses berdasarkan tahapan-tahapan fungsi di dalam manajemen seni pertunjukan. Tahapan tersebut meliputi: perencanaan, persiapan dan penyelenggaraan Teater.

Langkah-langkah perencanaan non artistik, terdiri dari: Pertemuan awal sebagai perencanaan selanjutanya, Pemilihan panitia inti, Penentuan Naskah atau lakon garapan, Menyusun organisasi panitia, Tugas dan Tanggungjawan panitia, Menyusun jadwal dan program kegiatan, Menyusun proposal pergelaran.

BAB 16: Kritik Teater

 Kritik dapat diartikan dengan ulasan, tulisan, tanggapan, penilaian, penghargaan, terhadap objek yang dikritik, yakni; karya seni, karya teater.

Syarat dalam kritik seni, khususnya karya Teater meliputi: 

  1. Kreator Teater, seniman, pembuat, pencipta teater disebut dengan Sutradara (art director).
  2. Karya seni, adalah wujud,benda, bentuk karya seni yang mengandung nilai–nilai keindahan dan nilai pesan, makna diciptakan kreator seni melalui medium diungkapkan dalam bentuk simbol. 
  3. Pembaca, apresiator, penikmat seni merupakan peryaratan yang tidak boleh dilupakan dalam kegiatan kritik. Kritik tanpa melibatkan unsur penonton adalah sia. Karena seni hadir untuk dinikmati, dihayati dan dihargai oleh masyarakatnya bukan untuk diri sendiri.

Kritik dalam seni:

  1. Kritik konstruktif, artinya kritik dilakukan oleh kritikus teater berisi ulasan dan tanggapan tentang karya Teater dengan kecenderung bersifat optimis dan positif tidak menjatuhkan seniman dan membingungkan pembacanya.
  2. Kritik destruktif, artinya kritik dilakukan oleh kritikus teater berisi ulasan dan tanggapan tajam tentang karya Teater dengan kecenderung bersifat pesimis dan negative, kadangkala melemahkan semangat kreator seni.

Fungsi kritik dalam karya Teater 

  1. Fungsi sosial, artinya kritik yang ada dan dilakukan kritikus memberikan dampak pencitraan terhadap kritikus sendiri, terbina, terpeliharanya budaya menulis dan sekaligus mendorong munculnya kritikus-kritikus Teater. 
  2. Fungsi apresiatif, artinya kritik dalam bentuk ulasan yang berbobot dan komunikatif menjadi media pembelajaran masyarakat dalam mendorong peningkatan apresiasi Karya seni sebagai objek apresiasi sekaligus subjek bagi pelakunya. 

3.  Fungsi edukasi, artinya mengandung unsur pendidikan dan pembelajaran (dari tidak tahu menjadi tahu) bagi pembaca, penonton maupun bagi para pelakunya teater dalam memaknai dan mewarnai kehidupan ini agar hidup lebih optimis dan bergairah serta menempatkan manusia sebagai subjek di dalam mengejar suatu martabat manusia dengan lingkungannya. 

4.  Fungsi prestasi, artinya sebagai ajang aktualisasi diri, eksistensi diri, penghargaaan diri melalui aktifitas dan kreativitas seni yang dikomunikasikan kepada penontonnya.

Unsur penting sebagai ciri atau tanda dari ke khasan Teater, terdiri dari; unsur cerita atau naskah, unsur pelaku seni, unsur pentas (artistik perupaan), unsur tempat dan unsur penonton