Rangkuman Materi SB (Seni Budaya) Lengkap Kelas 11 SMA/SMK/MA

Rangkuman materi pelajaran seni budaya yang lengkap untuk kelas 11 SMA, SMK, maupun, MA tentunya mencakup tentang apresiasi dari seni rupa dan pengembangan sikap empati dari profesi seniman maupun budayawan. Memang perlu dilakukan hal itu nantinya guna menimbulkan etika yang baik dalam setiap apa yang dihasilkan dari setiap karya.

Menghasilkan suatu karya yang luar biasa untuk menjadi suatu kebanggaan. Akan tetapi, hal itu berbanding terbalik apabila karya tersebut melanggar norma-norma yang telah berlaku sehingga pentingnya untuk mengamalkan prilaku manusia berbudaya dan juga dalam kehidupan bermasyarakat agar terciptanya kreativitas yang berkesinambungan.

Berkarya apalagi dalam bidang seni rupa tentunya harus memiliki kode etik tertentu dan hal itu memang sudah dipelajari untuk materi pembelajaran kelas 11 di sekolah menengah atas. Hal tersebut nantinya akan berupa poin-poin yang akan mempermudah dalam memahami setiap pembelajaran yang akan diberikan. Selain itu nantinya juga akan ada seni lukis, serta apa saja klasifikasi yang akan dipelajari.

Pada pembelajaran ini dari materi yang diberikan juga akan bertumpu pada musik dan eksplorasi dari bidang tari seperti konsep maupun juga prosedur yang akan berlaku. Maka dari itu, siswa nantinya akan diharapkan dapat memahami hal tersebut. Baik itu dari bagian eksplorasi maupun juga improvisasi yang memiliki arti tertentu. Sehingga nantinya akan ada evaluasi yang mendasari hal tersebut.

Analisis juga akan ada pada materi pembelajaran yang lengkap ini. Sehingga pada seni tari, baik itu secara tradisional dan juga yang lainnya tentu akan memberikan persiapan yang luar biasa. Apalagi untuk pementasan seni teater tentunya memiliki teknik dasar yang perlu dikuasai oleh para siswa. Semua itu bertujuan untuk menciptakan suatu karya yang dapat membuka mata banyak orang untuk menyukainya. Akan tetapi, juga masih memegang prinsip tidak melampaui batas dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

BAB 1: Berapresiasi Seni Rupa

A. Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa

Tingkat kepekaan perasaan keindahan akan berkembang lewat kegiatan menerima (sikap terbuka) kepada semua manifestasi seni rupa, mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya (seni lukis, seni patung, seni grafis, desain, dan kria) menghargai aspek keindahan dan kegunaannya (desain produk atau industri, desain interior, desain komunikasi visual, desain tekstil, dan berbagai karya kria (kria keramik, tekstil, kulit, kayu, logam dan lain-lain). Melalui proses penginderaan, kita mendapatkan pengalaman estetis. Dari proses penghayatan yang intens, kita akan mengamalkan rasa keindahan yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan keseharian.

B. Pengembangan Sikap Empati kepada Profesi Seniman dan Budayawan 

Pengenalan akan tokoh-tokoh seni budaya dan reputasinya, kontribusi mereka bagi masyarakat dan bangsa, atau bagi kemanusiaan pada umumnya, adalah upaya nyata mengembangkan perasaan simpati, yang jika dilakukan berulangulang akan meningkat menjadi perasaan empati.  

C. Mengamalkan Prilaku Manusia Berbudaya dalam Kehidupan Bermasyarakat

Dengan mengenal, memahami, dan menghargai budayanya sendiri, para siswa dapat mengembangkan potensi prilaku yang baik bergaul dengan masyarakat seni dan lingkungan sosial sebagai insan yang berbudaya. 

D. Interaksi dan Komunikasi Efektif dengan Lingkungan Seni Budaya

Contoh sikap demokratis lain, adalah prilaku yang tidak bias gender. Siswa akan memperlihatkan penerapan prinsip kesetaraan gender sesama teman dan pergaulan dengan masyarakat seni dan lingkungan pergaulan sosial pada umumnya. Sikap toleran akan tercermin ketika siswa dapat menerima perbedaan pendapat dalam aktivitas mengapresiasi seni, karena dari kajian yang dilakukannya dalam menafsirkan data pengamatan perbedaan respons estetik adalah sesuatu yang wajar. Sebab dia tahu pada dasarnya seni dapat dipersepsi secara berbeda. 

E. Rangkuman   

Apresiasi seni rupa adalah aktivitas mengindra karya seni rupa, menghargai nilai-nilai keindahan, keberagaman, dan kaidah artistik eksistensi dunia seni rupa. Sikap apresiatif ini terbentuk, atas kesadaran akan kontribusi para seniman bagi bangsa dan negara, atau bagi nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya.

BAB 2: Berkarya Seni Rupa

A. Berekspresi

  1. Mengamati
  2. Menanyakan
  3. Mencoba
  4. Menalar
  5. Menyajikan

B. Rangkuman

Berekspresi adalah salah satu kebutuhan hidup manusia, realitas internal kehidupan spiritual siswa membutuhkan penyaluran, agar dapat mencapai keseimbangan kehidupan rohaniah yang sehat. Proses mengamati, menanyakan, mencoba, menalar, dan menyaji adalah aktivitas proses kreasi yang lebih bersifat objektif.

C. Bereksperimen

Dalam konteks proses kreatif, Guilford dalam Semiawan, Dimensi Kreatif dalam Filasafat Ilmu menyebutkan; sifat fluensi, fleksibilitas, orisinalitas, elaborasi, dan redefinisi adalah kemampuan yang perlu dikembangkan melalui aktivitas eksperimen. 

  1. Penciptaan Seni Rupa Murni
    1. Aspek Konseptual
      1. Penemuan Sumber Inspirasi
      2. Penetapan Interes Seni
      3. Penetapan Interes Bentuk
      4. Penetapan Prinsip estetik
    2. Aspek Visual
      1. Struktur Visual
      2. Komposisi
      3. Gaya pribadi
  2. Aspek Operasional

Langkah-langkah kerja dalam keseluruhan proses perwujudan karya dimulai dari penetapan bahan, peralatan utama dan pendukung, serta teknik-teknik dalam memperlakukan bahan dengan peralatannya.

D. Pengertian Dasar Seni Lukis

Penciptaan karya seni lukis, menuntut pengetahuan dan spesialisasi bidang keahlian, karena itu diperlukan pengetahuan dasar seni lukis sebagai fondasi proses kreatif yang dilakukan.

  1.  Ruang lingkup seni lukis
  2.  Unsur Visual
  • Garis
  • Warna
  • Sifat Warna
  • Notasi Warna
  • Warna-Warna Antara
  • Warna Hangat dan Warna Sejuk
  • Warna Kromatik dan Akromatik
  • Warna Objek dan Warna Pigmen
  1. Ruang
  2. Tekstur
  3. Bentuk

E. Penciptaan Desain

Desain sebagai kata kerja berarti proses penciptaan objek baru, sedangkan sebagai kata benda desain berarti hasil akhir sebuah proses kreatif baik dalam wujud rencana, proposal, atau karya desain sebagai objek nyata. Penciptaan alternatif desain pada umumnya mempertimbangkan faktor kebutuhan fungsional, faktor estetis, faktor lingkungan, dan faktor kenyamanan dan keamanan masyarakat pengguna desain, baik dalam arti fisik maupun mental.

BAB 3: Menggubah Musik

A. Mendengarkan Musik

Pada aktivitas mendengarkan musik, perhatian selalu melekat pada musik yang telah lewat dan menghubungkannya dengan musik yang sedang terdengar sekaligus membayangkan bunyi musik yang akan datang. 

1. Mengamati

Sebagai langkah awal, hubungkan antar unsur yang membangun musik tersebut. Umpamanya hubungan antar nada, ritme, atau harmoninya jika ada. Cara lain dapat juga dilakukan dengan terlebih dahulu mendengarkan detail-detail musik yang membuat kita terkesan dari suatu karya, kemudian mendalami hubungan dengan bagian lain secara keseluruhan.

2. Menanya

Bagaimana gerakan melodinya, adakah motif diulang sama atau ada perubahan-perubahan? Adakah melodi selain melodi utama dalam iringan musiknya? 

3. Mengeksplorasi

Mendengarkan sambil membaca memberi manfaat yang baik pada kemampuan membaca notasi musik dan pemahaman akan detail-detail musik yang sedang dipelajari.

4. Mengasosiasi

Dengan mendengarkan musik sambil membaca notasinya dapat membantu ingatan untuk menulis musik yang hendak digubah nantinya karena bunyi yang dibayangkan dalam pikiran telah diketahui cara dan letak penulisannya dalam pertitur.

5. Mengomunikasikan

Hasil pendengar kita dari suatu karya musik dapat disajikan dengan menuliskan ulang hasil pendengaran tersebut pada secarik kertas musik.

B. Menggubah Musik

1. Mengamati

Menggubah berarti menata musik dari yang lama menjadi baru. Baru dalam hal ini tidak selalu secara keseluruhan tetapi dapat hanya sebagian saja, namun harus ada yang baru sebab jika tidak maka hanya meniru atau tepatnya menulis ulang hasil pekerjaan orang lain.

2. Menanya

Bila telah mencatat hasil pengamatan suatu karya gubahan, maka bagian-bagian apa saja yang dapat diolah atau dikembangkan pada karya gubahan tersebut? Apakah semua unsur dasar musik yang mencakup pengembangan unsur melodi, ritme, dan harmoni? Atau hanya sebagian saja?

3. Mengeksplorasi

Menggubah musik vokal:

  1. Tulis lengkap melodinya dan dalami detailnya serta maknanya.
  2. Berikan akor pada ketukan berat (aksen) atau per birama. Lihat contoh pada birama 1, 3, dan 4 aransemen lagu Indonesia Pusaka.
  3. Tambahkan suara lain sebagai suara kedua dengan jarak 3 (tertz) atau 6 (sext) jika dibalik.
  4. Atau, gunakan unsur nada triad pada masing-masing nada, sehingga menghasilkan 3 suara.

4. Mengasosiasi

Irama pengiring lagu yang akan diaransemen dapat dipilih salah satu pola irama yang sudah ada, seperti bossanova, reggae, rock, atau keroncong. Beberapa irama musik daerah kita dapat diadaptasi atau dijadikan dasar untuk pengembangan irama pengiring. Irama tersebut disesuaikan dengan alat musik yang tersedia.

5. Mengomunikasikan

Untuk kegiatan selanjutnya, aransmenlah salah satu karya musik. Buatlah itu dalam format vocal dan atau instrument musik. Kemudian sajikanlah itu dalam bentuk partitur musik.

C. Rangkuman

Mendengarkan musik merupakan langkah awal kegiatan apresiasi, kreasi, maupun rekreasi musik. Mendengarkan musik berarti menimba pengalaman akan keindahan bunyi. Melalui mendengarkan, kita dapat menangkap unsur-unsur yang terdapat dalam suatu karya musik.

BAB 4: Eksplorasi Gerak Tari: Konsep, Teknik, dan Prosedur

A. Konsep Gerak Dasar Tari Tradisional

Setiap tari memiliki gerak berbeda tetapi memiliki kesamaan yaitu memiliki tenaga, ruang dan waktu. Selain gerak memerlukan tenaga dan ruang, gerak juga memerlukan waktu. Setiap gerakan yang dilakukan membutuhkan waktu. Perbedaan cepat, lambat gerak berhubungan dengan tempo. Jadi tempo merupakan cepat atau lambat gerak yang dilakukan.

B. Teknik & Proses Gerak Dasar Tari Tradisional

Pemahaman terhadap teknik gerak dasar tari tradisional adalah dasar untuk mengeksplorasi keanekaragaman gerak yang dapat dirangkai menjadi sebuah tarian. Teknik gerak dasar ini terdiri dari: gerak kepala, gerak badan, gerak tangan dan gerak kaki. Dari keempat teknik inilah yang dapat dikembangkan menjadi sebuah kesatuan tarian yang utuh.

C. Eksplorasi: Merangkai Gerak Dasar Tari Tradisional

Teori yang diungkapkan oleh Hawkins (2003) untuk membuat komposisi gerak, terdiri:

1. Eksplorasi

yaitu pengalaman melakukan penjajakan gerak, untuk menghasilkan ragam gerak. Pada kegiatan ini berupa imajinasi melakukan interpretasi terhadap apa yang telah dilihat, didengar, atau diraba. 

2. Improvisasi

yaitu pengalaman secara spontanitas mencoba-coba atau mencari-cari kemungkinan ragam gerak yang telah diperoleh pada waktu eksplorasi.

3. Evaluasi

yaitu pengalaman untuk menilai dan menyeleksi ragam gerak yang telah dihasilkan pada tahap improvisasi. 

4. Komposisi

yaitu tujuan akhir mencari gerak untuk selanjutnya membentuk tari dari gerak yang siswa temukan.

D. Rangkuman

Berdasarkan materi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa ragam gerak kepala, badan, tangan dan kaki dapat dieksplorasi dengan variasi ruang, tenaga dan waktu.

BAB 5: Analisis dan Eksplorasi Karya Tari Tradisional

A. Fungsi Tari

  1. Pengamatan terhadap tari yang berfungsi sebagai upacara

Tari yang berfungsi sebagai upacara, apabila tari tersebut memiliki ciri: dipertunjukan pada waktu terpilih, tempat terpilih, penari terpilih, dan disertai sesajian.

  1. Pengamatan terhadap tari yang berfungsi sebagai hiburan pribadi

Tari yang berfungsi sebagai hiburan pribadi, memiliki ciri gerak yang spontan. Pada intinya tari yang berfungsi sebagai hiburan pribadi ini dilakukan untuk kesenangan sendiri atau kegembiraan yang sesaat.

  1. Pengamatan terhadap tari yang berfungsi sebagai penyajian estetis

Tari yang berfungsi sebagai penyajian estetis, adalah tari yang disiapkan untuk dipertunjukan.

B. Simbol Tari

  1. Mengamati simbol dalam gerak

Misalnya gerak tari memanah dalam tari Beksa Panah dari Kalimantan Selatan. Gerak ini memiliki kesamaan antara gerak dalam tari dengan gerak yang sebenarnya, atau dengan kata lain gerak memanah pada tari Beksa Panah meniru dari gerak memanah. Dengan demikian maka gerak ini memiliki simbol gerak bermakna.

  1. Mengamati simbol dalam busana

Misalnya tari Gawil dari Jawa Barat: Busama yang dipakai penari adalah jenis busana bangsawan Sunda pada abad 19. Simbol status kebangsawanan diperoleh dari motif, kain, model jas dan tutup kepala, serta asesoris busana (kalung rantai dan kancing mas) yang hanya dipakai oleh kalangan bangsawan Sunda.

C. Jenis Tari

  1. Tari tradisional yang ditampilkan oleh seorang penari
  2. Tari tradisional yang ditampilkan secara berpasangan
  3. Tari tradisional yang ditampilkan secara kelompok

D. Konsep Tari Tradisional

  1. Mengamati konsep tari tradisional
  2. Mengamati konsep tari tradisional klasik

Konsep tari tradisional dalam tari tradisional klasik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

– Tari yang hidup di lingkungan keraton

– Gerak-gerak tarinya memiliki pakem (aturan) tertentu.

– Memiliki keindahan mengikuti aturan keraton.

– Ruang, tenaga dan waktu memiliki standar keraton.

– Diketahui penciptanya

Contoh tari tradisional klasik: Tari Serimpi, Tari Bedhaya, Tari Beksan Lawung, Tari Pakarena, Tari Legong Kraton, dll.

  1. Mengamati konsep tari tradisional kerakyatan

– Tari yang hidup di lingkungan rakyat yang sifatnya komunal

– Memiliki nilai yang berpijak pada tradisi setempat

– Terkadang memiliki kekuatan magis ritus tertentu

– Tidak diketahui penciptanya

Contoh tari tradisional kerakyatan: Sintren, Sisingaan, Ronggeng Gunung, Ronggeng Ketuk, Seblang dll.

BAB 6: Sejarah dan Perkembangan Teater

A. Wawasan Seni

           Wawasan seni adalah sikap, pendekatan, pemahaman dan penghayatan seseorang terhadap kesenian dan karya seni. 

Bentuk karya seni dapat berupa:

  1. seni sastra (menggunakan media ekspresi kata dan bahasa),
  2. seni tari (menggunakan media ekspresi gerak tubuh),  
  3. seni musik (menggunakan media ekspresi bunyi dan suara), 
  4. seni teater (menggunakan media ekspresi laku dan suara), 
  5. seni rupa (menggunakan media ekspresi bahan, cat (warna), garis dan wujud).

Didasarkan atas media yang digunakan, kesenian dapat dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

  1. seni sastra: prosa (naskah drama, novel, cerpen dan esai) dan puisi,  
  2. seni pertunjukan: tari, musik, dan drama,  
  3. seni rupa: lukisan, patung, kriya, grafis, dan arsitektur.

B. Pengertian Teater

           Kata “teater” berasal dari kata Yunani kuno, theatron, yang dalam bahasa Inggris seeing place, dan dalam bahasa Indonesia “tempat untuk menonton”. Dan pada akhirnya berbagai bentuk pertunjukan (drama, tari, musical) disebut sebagai teater. Bahkan Peter Brook melalui bukunya “Empty Spece” berpendapat lebih ekstrem tentang teater, bahwa; “sebuah panggung kosong, lalu ada orang lewat”, itu adalah teater. 

C. Pengertian Drama

           Kata “drama”, juga berasal dari kata Yunani draomai yang artinya berbuat, berlaku atau beraksi. Kata drama dalam bahasa Belanda disebut toneel, yang kemudian diterjemahkan sebagai sandiwara. Pengertian drama lebih mengacu pada naskah lakon, yang melukiskan konflik manusia dalam bentuk dialog, yang dipresentasikan melalui tontonan dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton.

D. Sejarah dan Perkembangan Teater Dunia

  1. Teater Yunani Kuno 

Di zaman Yunani kuno, sekitar tahun 534 SM, terdapat tiga bentuk drama; tragedi (drama yang menggambarkan kejatuhan sang pahlawan, dikarenakan oleh nasib dan kehendak dewa, sehingga menimbulkan belas dan ngeri), komedi (drama yang mengejek atau menyindir orang-orang yang berkuasa, tentang kesombongan dan kebodohan mereka), dan satyr (drama yang menggambarkan tindakan tragedi dan mengolok-olok nasib karakter tragedi).

  1. Teater Zaman Renaisance Di Ingggris (th. 1500 M – th. 1700 M)

Kejayaan teater di zaman Yunani kuno lahir kembali di zaman Renaissance. Di Inggris muncul dramawan-dramawan besar. Dan yang paling terkenal hingga sekarang adalah Williams Shakespeare (1564 – 1616). Beberapa karyanya diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo, di antaranya; Romeo & Juliet, Hamlet, Machbeth, Prahara, dll.

  1. Teater Zaman Renaisance Di Perancins (th. 1500 M – th. 1700 M)

Di zaman itu muncullah Moliere (1622 M – 1673 M). Sebagaimana Williams Shakespeare, Moliere juga mengarang dan mementaskan karya-karyanya sendiri, sekaligus menjadi pemeran utamanya. Beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya: Si Bakhil, Dokter Gadungan, Akal Bulus Scapin, dll.

  1. Commedia Del ‘Arte Di Italia

Adalah bentuk teater rakyat Italia abad ke enambelas, yang berkembang di luar lingkungan istana. Drama ini dipertunjukkan di lapangan kota dalam panggung-panggung yang sederhana.

E. Beberapa Jenis Teater Tradisional Asia

  1. Teater Tradisional Cina

Salah satu teater tradisional China adalah Opera Peking. Yang menggabungkan musik, tarian, nyanyian, pantomim dan akrobat. 

  1. Teater Tadisional Jepang

Salah satu bentuk teater tradisional Jepang adalah Kabuki.

  1. Teater Tradisional India

Teater tradisional India bermula dari bentuk narasi yang diekspresikan dalam nyanyian dan tarian. Sehingga pada perkembangannya gerak laku pada teater tradisional India, didominasi oleh nyanyian dan tarian, yang merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi.

F. Beberapa Jenis Teater Tradisional Nusantara

  1. Lenong

Lenong merupakan teater tradisional Betawi. Ada dua bentuk Lenong; Lenong Denes dan Lenong Preman.

  1. Longser

Kata Longser berasal dari kata Melong (melihat) dan seredet (tergugah). Diartikan bahwa siapa yang melihat (menonton) pertunjukan hatinya akan tergugah.

  1. Ketoprak

Semula disebut ketoprak lesung, kemudian dengan dimasukkannya musik gendang, terbang, suling, nyanyian dan lakon yang menggambarkan kehidupan rakyat di pedesaan, maka lengkaplah Ketoprak sebagaimana yang kita kenal sekarang.

  1. Ludruk

Ludruk merupakan teater tradisional Jawa Timur yang bersifat kerakyatan.

  1. Arja

Arja umumnya mengambil lakon dari Gambuh, yaitu; yang bertolak dari cerita Gambuh. Namun pada perkembangannya dimainkan juga lakon dari Ramayana dan Mahabharata.

  1. Kemidi Rudat

Bentuk tontonan Kemidi Rudat, pengajiannya dalam bentuk drama, yang dikombinasi dengan tarian dan nyanyian.

  1. Kondobuleng

Kondobuleng merupakan teater tradisional yang berasal dari suku Bugis, Makassar. Ceritanya simbolik, tentang manusia dan burung bangau. Dan dimainkan dengan gaya lelucon, banyolan yang dipadukan dengan gerak stilisasi. 

  1. Dulmuluk

Dulmuluk adalah teater tradisional yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan.Tontonan Dulmuluk ini juga menggunakan sarana tari, nyanyi dan drama sebagai bentuk ungkapannya, dan musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tontonan, karena pemain juga menyanyikan dialog-dialognya.

  1.  Randai

Teater Tradisional Randai yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat ini bertolak dari sastra lisan yang disebut kaba (yang artinya “cerita”). Tontonan berlangsung dalam pola melingkar berdasarkan gerak gerak tari yang bertolak dari silat. 

  1. Makyong

Teater tradisional makyong berasal dari pulau Mantang, salah satu pulau di daerah Riau. Pada mulanya tontonan makyong berupa tarian dan nyanyian, tapi pada perkembangannya kemudian dimainkan cerita-cerita rakyat, legenda-legenda dan cerita-cerita kerajaan.

  1. Mamanda

Teater Tradisional Mamanda berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tahun 1897, datanglah rombongan Bangsawan Malaka ke Banjar Masin, yang ceritanya bersumber dari syair Abdoel Moeloek.

BAB 7: Persiapan Pementasan Seni Teater

A. Teknik Dasar Akting Teater

  1. Aktor dengan Suara dan Tubuhnya

Banyak yang dituntut dari segi suara dan fisik. Sebanyak tuntutan yang ada dari segi kejiwaannya. Bagi seorang aktoraktris teater, kondisi suara dan fisik yang prima menjadi syarat mutlak. Salah satu usaha untuk itu ialah latihan olah suara dan latihan olah tubuh.

  1. Olah Suara

 1. Melatih Kejelasan Ucapan

  1. Latihan berbisik: Dua orang berhadapan, membaca naskah dalam jarak dua atau tiga meter, dengan cara berbisik.
  2. Latihan mengucapkan kata atau kalimat dengan variasi tempo, cepat dan lambat.

2. Melatih Tekanan Ucapan

  1. Tekanan Dinamik
  2. Tekanan Tempo
  3. Tekanan Nada

3. Melatih Kerasnya Ucapan

  1. Mengucapkan kata atau kalimat tertentu dalam jarak 10 meter atau 20 meter. 
  2. Latihan mengguman. Gumaman harus stabil dan konstan. 
  3. Olah Tubuh

Tulang punggung dapat menyampaikan pada para penonton berbagai kondisi yang kita alami, apakah lagi tegang atau tenang, letih atau segar, panas atau dingin, tua atau muda, dan ia juga membantu keberlangsungan perubahan sikap tubuh dan bunyi suara kita. 

  1. Latihan kepala dan leher

Jatuhkan kepala ke depan dengan seluruh bobotnya dan ayunkan dari sisi ke sisi.

  1. Latihan tubuh bagian atas

Berdiri dengan kedua kaki sedikit direnggangkan dengan jarak antara 60 sentimeter. Tekukkan lutut sedikit saja. Benamkan seluruh tubuh bagian atas ke depan di antara kedua kaki. Biarkan tubuh bagian atas bergantung seperti ini dan berjuntaijuntai beberapa saat. Tegakkan kembali seluruh tubuh melalui gerakan ruas demi ruas, sehingga kepalalah yang paling akhir mencapai ketinggiannya dan seluruh tulang punggung melurus. 

  1. Latihan pinggul, lutut dan kaki

Berdiri tegak dan rapatkan kaki. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak.

  1. Seluruh batang tubuh

Berdiri dan angkat tangan kita ke atas setinggi-tingginya, regangkan diri bagaikan sedang menguap keras merasuki seluruh tubuh. Ketika kita mengendurkan regangan tubuh berdesahlah dan lemaskan diri sehingga secara lemah lunglai mendarat di lantai. Jangan mendadak, tapi biarkanlah bobot tubuh kita sedikit demi sedikit luruh ke bawah/ke lantai.

  1. Berjalan

Mengkakukan tulang punggung dan rasakan betapa langkah yang satu terpisah dari langkah lainnya.

  1. Berlari

Berdiri dan tarik napas. Hembuskan napas ke depan sambil berlari, mengeluarkan suara “haaaa” sepanjang kemampuan napas yang dikeluarkan. 

  1. Melompat

Berlari menuju ke suatu lompatan. Rasakan betapa sifat memantulnya berat tubuh mengangkat kita.

B. Ragam Permainan untuk Teater

  1. Menghindar dari Serangan Lebah

Mula-mula pelatih menyuruh siswa/siswi berjalan dari A ke B dan kembali lagi ke A. Lalu berjalan lagi sambil membayangkan ada seekor Kumbang/Tawon menyerang. Setiap siswa/siswi harus menghindar dari serangan Kumbang/Tawon itu. 

  1. Jalan yang Licin

Masing-masing anak membayangkan berjalan di jalan yang licin. Jaraknya ditentukan oleh pelatih. Misalnya, dari sudut A ke B yang berjarak 10 – 20 meter. 

C. Merancang Karya Teater dari Naskah Adaptasi

  1. Membentuk staf produksi
  2. Memilih dan menentukan pemain
  3. Menentukan Karakterisasi
  4. Ikah
  5. Menentukan bloking
  6. Tata Rias
  7. Tata Busana
  8. Tata Pentas
  9. Tata Cahaya

BAB 8: Berkarya Kolaboratif

Proyek Seni

Secara ringkas tugas proyek seni dimulai dari penetapan:

  1. Konsep seni (sumber inspirasi, interes seni, interes bentuk, prinsip estetik).
  2. Tujuan seni ditetapkan agar semua siswa memiliki persepsi yang sama memahami untuk apa seni diciptakan.
  3. Fungsi seni dapat sangat luas, namun jika disederhanakan (dalam kerja kolaboratif ini) seni bagi kreator (siswa) adalah media ekspresi, sedangkan bagi apresiator (publik seni) adalah sarana mendapatkan pengalaman estetis dan pengalaman menghayati nilai-nilai seni.
  4. Media seni menggunakan unsur rupa, bunyi, peran, gerak, ruang, lokasi, alam, atau unsur yang dipilih dan ditentukan berdasarkan kepentingannya untuk merealisasikan gagasan seni. 
  5. Teknik artistik adalah keterampilan dan langkah-langkah prosedural mengerjakan bahan baku atau media seni, dari awal sampai menjadi karya proyek yang menghasilkan seni alternatif.
  6. Proses kreasi meliputi tahap persiapan, tahap pengendapan, tahap elaborasi, dan tahap penciptaan.
  7. Proses penilaian karya seni multimedia atau seni alternatif dengan sendirinya membutuhkan pendekatan lain, artinya karya seni alternatif tidak dapat dinilai dengan kriteria seni konvensional.

Di bawah ini disajikan pedoman pendekatan saintifik dalam penciptaan karya kolaboratif proyek seni.

  1. Mengamati
  1. Mengamati beberapa hasil karya kolaboratif yang telah ada (recorded) melalui media film, video, atau seni kolaboratif secara langsung (live).
  2. Mengamati proses pembuatan karya kolaboratif dari berbagai sumber.
  3. Menanyakan
  1. Menanyakan: “Apakah konsep karya kolaboratif ini”?
  2. Menanyakan: “Bagaimankah langkah-langkah merancang suatu karya kolaboratif”?
  3. Menanyakan tujuan penciptaan karya kolaboratif. 
  4. Menanyakan fungsi penciptaan karya kolaboratif
  5. Mencoba
  1. Membuat alternatif konsep seni.
  2. Merumuskan tujuan penciptaan karya kolaboratif.
  3.  Merumuskan fungsi penciptaan karya kolaboratif. 
  4. Merumuskan media penciptaan karya kolaboratif. 
  5. Merumuskan teknik artistik penciptaan karya kolaboratif. 
  6. Mengumpulkan informasi tentang perkembangan penciptaan karya kolaboratif.
  7. Menalar
  1. Menetapkan media (seni rupa, musik, tari, dan teater) untuk merealisasikan tujuan, fungsi, dan proses kreatif seni kolaboratif yang akan diciptakan.
  2. Menetapkan teknik artistik yg sesuai dan mengolah media untuk merealisasikan konsep seni kolaboratif yang akan diselenggarakan.
  3. Menetapkan proses kreasi yang sesuai untuk mewujudkan karya kolaboratif yang akan diselenggarakan.
  4. Menyajikan
  1. Tim Kerja 1 mempresentasikan konsep karya kolaboratif yang akan diselenggarakan
  2. Tim Kerja 2 mempresentasikan tujuan karya kolaboratif yang akan diselenggarakan
  3. Tim Kerja 3 mempresentasikan fungsi karya kolaboratif yang akan diselenggarakan
  4. Tim Kerja 4 mempresentasikan media karya kolaboratif yang akan diselenggarakan
  5. Tim Kerja 5 mempresentasikan teknik artistik karya kolaboratif yang akan diselenggarakan.
  6. Tim Kerja kolaboratif membuat tulisan tentang rancangan seni alternatif yang akan diselenggarakan.
  7. Tim Kerja kolaboratif mempresentasikan naskah karya alternatif yang akan diselenggarakan.
  8. Menampilkan hasil karya kolaboratif, yakni seni alternatif di lingkungan sekolah atau lokasi lain yang representatif.